Selasa, 10 April 2018

Aku

oleh : 'Azzah Nurin Taufiqotuzzahro'

sedari angin berdesir
menghayutkan jiwa bersamanya
tak upahnya aku
bertekuk lutut menikmati
geseran lembut yang terus saja menggelitik
senyum (ku) dibuatnya
tersipu (ku) bersamanya
seolah ingin berkenalan denganku
mengajakku berkelana dalam diam ketersenyumanku

ini aku,
sedari dulu mengenyahkan tiap rasa
yang seringkali mengusik tanpa rasa berdosa

aku,
bukan sosok lembut, sama seperti angin
bukan lagi sosok penyayang, sama (pun) sepertinya
bukan lagi orbit layaknya matahari

aku, 
biloa aku dalam aku
bukan lagi tak mengenal aku
namun aku,
ada karena ke-aku-anku


10-04-18

Minggu, 01 April 2018

Manajemen Krisi (PT. Rabbani)

Oleh : Shafira Nabilla Azmir (15730004)
Prodi Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



Suatu perusahaan pastinya tidak akan jauh dari isu tentang kebangkurutan,   apalagi jika perusahaan tersebut dulunya merupakan perusahaan besar yang sudah terkenal namun sekarang mulai meredam citranya. Seorang PR dalam fungsi manajemenya adalah untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publiknya yang mempengaruhi kesuksesan maupun kegagalan.
Kasus isu tersebut dalam dunia Public Relations masuk dalam bidang Manajemen Krisis. Yaitu dimana suatu perusahaan yang mendapat kondisi yang kritis atau bermasalah, dan disini PR akan melakukan tugasnya seperti yang dijelaskan kasus di atas. Cepat lambatnya penanganan yang dilakukan seorang PR dan bagaimana cara yang akan dituju, sangat mempengaruhi bagaimana isu itu akan digiring. Akankah meredam atau malah membentuk opini yang tidak sesuai dengan tujuan.Walaupun isu-isu yang beredar baru tersebar atau belum mempengaruhi konsumen, tetap saja seorang PR harus siap tanggap dan peka dengan lingkungan.
Suatu perusahaan yang mendapatkan suatu isu negatif tidak selalu langsung menjadi masalah besar karena hal tersebut sebenarnya memiliki langkah, yaitu :
1.      Tahap prodmoral, dimana suatu perusahaan sudah mulai memiliki masalah atau isu yang mulai terbentuk di konsumen dan dalam hal ini PR sudah mulai sensitif dan paham apa yang selanjutnya dilakukan.
2.      Tahap kronis, setelah masalah yang timbul jika belum ditangani dengan cepat akan merembet pada masalah yang lebih besar dan pada tahap ini adalah yang paling pendek waktunya disbanding tahapan lain, karena pada tahap ini sebenarnya tergantung pada serangan yang dimiliki perusahaan
3.      Tahap akut, tahap ini adalah disaat perusahaan harus melakukan intropeksi atas masalahnya, mengapa masalah tersebut datang.
4.      Tahap resolusi, setelah melakukan intropeksi, perbaikan layanan dan pengembalian citra positif, sebuah perusahaan akan kembali dengan citranya seperti semula. Pada tahap ini sebuah perusahaan pastinya lebih siap dan matang untuk melanjutkan suatu aktivitas manajemen.
No.
perusahaan
Stake holder
klasifikasi
efek
1
Rabbani
Wanita dan siswi berhijab
utama
Saat lebaran dan saat akan tahun ajaran baru adalah cara yang jitu untuk perusahaan ini melakukan promosi.


Manajemen Krisis (PT. Popeye Chicken Express)

Oleh : Destri Purnama Hamami (15730011)
Prodi Ilmu Komunikasi 
Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



Suatu perusahaan pastinya tidak akan jauh dari isu tentang kebangkurutan, apalagi jika perusahaan tersebut adalah dulunya perusahaan besar yang sudah terkenal namun sekarang mulai meredam citranya. Seorang PR dalam fungsi manajemenya adalah untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dan bermanfaat antara organisasi dengan publiknya yang mempengaruhi kesuksesan maupun kegagalan.
 Kasus isu tersebut dalam dunia Public Relations  masuk dalam bidang Manajemen Krisis. Yaitu dimana suatu perusahaan yang mendapat kondisi yang kritis atau bermasalah, dan disini PR akan melakukan tugasnya seperti yang dijelaskan kasus diatas. Cepat lambatnya penanganan yang dilakukan seorang PR dan bagaimana cara yang akan dituju, sangat mempengaruhi bagaimana isu itu akan digiring. Akankah meredam atau malah membentuk opini yang tidak sesuai dengan tujuan. Walaupun isu-isu yang berdar baru tersebar atau belum mempengaruhi konsumen, tetap saja seorang PR harus siap tanggap dan peka dengan lingkungan.
Suatu perusahaan yang mendapatkan suatu isu negative tidak selalu langsung menjadi masalah besar karena hal tersebut sebenarnya memiliki langkah, yaitu :
1. Tahap prodmoral, dimana suatu perusahaan sudah mulai memiliki masalah atau isu yang  mulai terbentuk di konsumen dan dalam hal ini PR sudah mulai sensitive dan paham apa yang selanjutnya dilakukan.

2. Tahap kronis, setelah masalah yang timbul jika belum ditangani dengan cepat akan merembet pada masalah yang lebih besar dan pada tahap ini adalah yang paling pendek waktunya dibanding tahapan lain, karena pada tahap ini sebenarnya tergantung pada serangan yang dimiliki perusahaan

3. Tahap akut, tahap ini adalah disaat perusahaan harus melakukan intropeksi atas masalahnya, mengapa masalah tersebut datang.

4. Tahap resolusi, setelah melakukan intropeksi, perbaikan layanan dan pengembalian citra positif,  sebuah perusahaan akan kembali dengan citranya seperi semula. pad tahap ini sebuah perusahaan pastinya lebih siap dan matang untuk melanjutkan suatu aktivitas manajemen.

No.
perusahaan
stakeholder
klasifikasi
efek
1
Popeye
Chicken Express
Masyarakat yogyakarta
utama
Banyaknya restoran makanan cepat saji yang hadir dalam menu masakan yang sama. Langkah yang harus di ambil adalah menambahkan menu makanan yang tidak ada di restoran lain. Ini bertujuan untuk menambah daya tarik konsumen sehingga akan menambah jumlah konsumen dan pendapatan




Minggu, 11 Maret 2018

Untukmu Sahabat

Seringkali cinta menengadah
Memohon rasa yang muncul
Pada bilik hati dengan sedirinya
Kita yang terlahir dari benang berbeda
Bukan untuk mengindahkan
Namun untuk mengayomi
Kita yang saling melindungi dari tangis hujan
Berjalan setapak untuk bergandengan
Inginku memang seperti itu
Apalah daku,
Aku cemburu pada kicau burung yang bersenandung bersama
Aku iri pada rentetan semut yang berbaris rapi
Mengapa? Karena mereka tak pernah saling menjatuhkan
Harapan menjadi cita
Bagiku, (pun) bagimu
Teruntukmu sahabat
Tetaplah menjadi permata (ku) dalam pelita

Krapyak, 11 Maret 2018

Rabu, 08 November 2017

(Menjadi) Guru

(Menjadi) Guru
Oleh : 'Azzah Nurin Taufiqotuzzahro'


Menjadi guru
Bukanlah persoalan yang mudah
Siap menghadapi
Terpaan apa dalam hadapan (nya)
Menanggung segenggam amanah
Yang kepada (nya) dilimpahkan

Menjadi guru
Harus siap
Menghadapi sederetan murid yang berulah
Paham akan sepersekian anak didik

Menjadi guru
Harus sabar
Sabar untuk mendeklarasikan
Memaparkan huruf demi huruf

Menjadi guru
Harus menjaga
Segala sikap diri
Untuk bisa digugu
(pun) ditiru oleh anak didikan (nya)

Menjadi guru
Tidaklah mudah
Dalam jalan s'lalu berlubang
Tanpa menikmati ke-halus-an setapak aspal

Untuk sang guru
Guru (ku),
Ungkapan rasa ke-terimakasih (ku)
Pada tiap huruf yang diajarkan
ke-terimakasih (ku),
Untuk peluh keringat yang menetes
Tanpa sanggup (ku) usap
Hanya untuk mengajari
Sosok-sosok insan
Haus dirinya akan samudra ilmu

Guru (ku),
Sederetan terima kasih
Kembali (ku) ucapkan
Untukmu dalam pelita


Yogyakarta, 08 November 2017

Aku Merindukanmu

Aku Merindukanmu
Oleh : 'Azzah Nurin Taufiqotuzzahro'


Lepas rindu seraya merangkak
Terpejam mata, hati mulai bicara
Aku rindu, rindu padamu
Rindu pada hasrat,
Yang memutar arah mata angin
Menghadap senja berpanorama
Rindu ini tersapu
Tersapu oleh ombak-ombak lautan
Menghempas pasir putih
Tanpa daya, 
Duh,
Begitu rapuh
Namun,
Andai kau tahu
Rindu kasih ini
Menuntun kalbu
Merambah lantang dalam balutan putih salju

Rembang, 07 Desember 2015

Rasa (ku)

Rasa (ku)
Oleh : 'Azzah Nurin Taufiqotuzzahro'


Rasa yang s'lalu berulah
Menuntunku pada lingkaran jejak kehidupan
Jejak yang menjadi tombak dari serpihan ingatan masa lalu
Ya, masa lalu
Juang tak lagi bertombak
Tombak melawan arus
Memaksakan diri untuk berevolusi
Mengganti berarti namun tak ayal merekonstruksi

Rasa (ku) yang kini ada
Mencoba meng-ada-kanku untuk berada
Mencuat niat bergelut
Dengan retorika akal
Tanpa mengindahkannya
Dengan rentetan ujung pena
Sesukanya ... bagiku,
Siput tak pernah diam untuk berlari kencang
Terlebih bila menggali lubang
Terlalu manis,
Namun bukan menafikannya
Aku (pun) sambut cahaya
Tanpa harus berhenti
Mencari celah untuk bergantung di keter-pukau-annya

Yogyakarta, 21 Oktober 2015