Minggu, 03 Januari 2016

SABAR DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN



SABAR DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN

Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir
Praktik Penafsiran Tematik

Dosen Pengampu :
Najib Buchori, Lc. M. Th. I


Oleh :
 ‘Azzah Nurin Taufiqotuzzahro’
NIM: 2012. 01. 01. 058


PROGRAM STUDI ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL ANWAR
SARANG REMBANG
2014

SABAR DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN
Oleh : ‘Azzah Nurin Taufiqotuzzahro’

I.       Pendahuluan
Al Qur’an merupakan mu’jizat Islam yang kekal yang selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Al Qur’an diturunkan Allah kepada Rasulullah, Muhammad untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju suasana yang terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus. Kandungan al Qur’an mencakup berbagai macam aspek kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat, seperti keanekaragaman sifat yang dimiliki oleh manusia, adakalanya baik dan buruk. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa al Qur’an merupakan buku pertama yang mengaplikasikan perilaku dalam kemasyarakatan, seperti halnya sabar.
Dalam menjalani hidup di dunia, manusia mengalami berbagai peristiwa yang membuatnya suka, senang, bahagia, duka, menderita, dan sebagainya. Problematika dan romantika yang silih berganti selalu melingkupi manusia selama ia masih hidup. Manusia dalam hidupnya seringkali diberi ujian dan cobaan oleh Allah. Berhasil atau tidaknya manusia dalam menghadapi cobaan tersebut, tergantung kepada diri manusia itu sendiri. Tetapi Allah telah memberikan petujuk kepada hamba-Nya dalam menghadapi cobaan yang ada, yaitu dengan cara bersabar diri. Dengan bersabar, manusia akan memperoleh kesuksesan dalam hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.
Bagi seorang mukmin, cobaan akan dimaknai sebagai ujian keimanan atau sebagai peringatan kepadanya atas dosa yang pernah diperbuat. Di dalam al Qur’an, Allah berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ [٦:٤٢][1]
dan Sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al An’am : 42)

Allah menegaskan dalam ayat tersebut bahwa manusia diberi kesengsaraan dan kemelaratan yang tujuannya agar menjadi pelajaran bagi mereka, sehingga mereka bertaubat dan mengikuti seruan Rasul. Melalui musibah, Allah akan menaikkan derajat seseorang dan dengan musibah pula dosa seorang mukmin akan dihapus serta diampuni, sebagaimana terdapat dalam sebuah hadis riwayat Abu Sa’id dan Abu Hurairah berikut:
وَعَنْ اَبِى سَعِيْدٍ وَ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ اَذَى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا اِلاَّ كَفَرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ (متفق عليه)[2]
Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra dari Nabi S̩alla Allah 'Alaihy wa Sallam, beliau bersabda: “Seorang muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegun-dahan, kesedihan, kesakitan maupun dukacita sampai-sampai tertusuk duri, niscaya Allah akan menebus dosanya dengan apa yang menimpanya itu.” (HR. Muttafaq’alaih).

Hadis tersebut menerangkan bahwa orang muslim itu diuji oleh Allah dengan segala macam musibah supaya mereka bersabar dalam menghadapi cobaan tersebut. Jika mereka sabar, maka Allah akan menghapus dosa-dosa mereka.
Selain itu, bersabar bukan hanya dilakukan ketika kita mengalami kesusahan dan bencana, namun bersabar juga harus dilakukan dalam ketaatan terhadap perintah agama. Misalnya, dalam melaksanakan ibadah shalat, puasa, zakat, dan haji sangat memerlukan kesabaran. Mengerjakan shalat 5 kali sehari adalah mendidik diri pribadi sabar yang menjadi kebiasaan sehari-hari dalam menjalankannya dengan menuntut keridhaan-Nya. Sabar dan shalat banyak mengandung hikmah antara lain : taat, patuh, setia, dan bertaqwa kepada Allah. Maka, ini menjadi penting untuk dikaji, karena untuk mengaplikasikan sifat sabar itu sendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam makalah ini, akan dibahas tentang pengertian sabar, macam-macam sabar, serta balasan bagi orang yang berbuat sabar dalam perspektif al Qur’an.
II.    Sabar dalam Perspektif al Qur’an
A.    Pengertian Sabar
Sabar secara etimologis berasal dari bahasa Arab  صبر يصبر صبرا"", yang berarti menahan. Menurut Kamus Kontemporer Arab Indonesia, kata صبر berarti bersabar (tabah hati), menahan, mencegah, dan menanggung[3]. Dalam Kamus al Muhit̩, kata صبر dapat dimaknai dengan robohnya kegelisahan, menanggung. Ada pula الصبر dengan meng-kasrah s̩ad-nya yang artinya obat yang pahit, yakni sari pepohonan yang pahit. Menyabarkannya berarti menyuruhnya bersabar. Bulan sabar, berarti bulan puasa. Ada pula الصبر dengan men-dhammah s̩ad-nya yang artinya tertuju pada tanah yang subur karena kerasnya[4].
Sabar dalam istilah agama Islam adalah teguh dan tahan menetapi pengaruh yang disebabkan oleh agama untuk menghadapi atau menentang pengaruh yang ditimbulkan oleh hawa nafsu[5]. Quraish Syihab dalam bukunya, Secercah Cahaya Ilahi mendefinisikan sabar sebagai menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi tercapai sesuatu yang baik atau lebih baik (luhur)[6]. Menurut al Ghazali, sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya adalah atas dorongan ajaran agama. Sedangkan secara istilah, sabar ialah menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diinginkan ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Sesuai dengan definisi tersebut, yakni kesanggupan mengendalikan diri, maka pengertian kesabaran merupakan upaya pengendalian nafsu yang ada dalam diri manusia[7].
Sedangkan lawan kata dari  صبر yaitu جزع yang berarti tidak sabar, gelisah, sedih dan keluh kesah, seperti yang telah disebutkan dalam al Qur’an QS. Ibrahim (14) :21, QS. al Ma’arij (70) :19-22. Al Qur’an menyebutkan lafal sabar sebanyak 103 kali dalam 93 ayat.
Allah menyuruh makhluk-Nya untuk bersabar. Oleh karena itu, Allah menyebutkan sabar dalam al Qur’an sebanyak lebih dari 30 surat dalam berbagai bentuk, di antaranya اصبر, اصبروا, صابرا, صابرة, صابرون. Hal tersebut menjadi bukti bahwa sabar memang diperhatikan oleh Allah. Al Qur’an tak hanya menyebutkan seseorang harus bersikap sabar dalam menghadapi cobaan saja, melainkan juga bersikap sabar dalam segala hal. Adapun ayat-ayat yang menerangkan tentang sabar, di antaranya QS. al Baqarah (2:155-157), QS. Ali Imran (3:142), QS. al A’raf (7:87), QS. Yusuf (12:90), QS. ar Ra’d (13:22), QS. al Kahfi (18:28), QS. as Sajdah (32:24), QS. ash Shaffat (37:102), QS. at Tur (52:16), QS. al Balad (90:17), dan lain sebagainya.
B.     Urgensi Sabar
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah. Sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengah dari  keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan.  Kaitan antara sabar dengan iman seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki kepala. Seperti dalam hadis :
1569 - أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ، قَالَ: ثنا أَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَارِسِيُّ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ نُوحِ بْنِ حَرْبٍ، قَالَ: ثنا مَرْوَانُ بْنُ آدَمَ، قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ، عَنْ عَلِيٍّ، قَالَ: «الصَّبْرُ مِنَ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ مَنْ لَا صَبْرَ لَهُ لَا إِيمَانَ لَهُ»[8]
Namun kesabaran bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo", ketidakmampuan, dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa manusia. Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan dan memenuhi panggilan Ilahi.
Al Qur’an telah mengisyaratkan mengenai pentingnya bersikap sabar. Hal tersebut menjadi urgensi sabar. Adapun urgensi sabar, di antaranya sabar menjadi penolong ketika mendapat cobaan, baik itu berupa musuh maupun yang lain. Seperti dalam firman Allah:
وَٱسْتَعِينُوا بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ[9]
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (QS. al Baqarah: 45)
Dalam tafsir al Jalalain, lafal وَٱسْتَعِينُوا ditafsiri dengan meminta pertolongan dalam menghadapi urusan dan kesulitan-kesulitan. Sedangkan lafal ٱلصَّبْرِ ditafsiri dengan bersikap sabar yakni menahan diri dari hal-hal yang tidak baik. Ayat tersebut diperuntukkan bagi orang-orang yang mengalami cobaan maupun kesulitan agar mereka sabar dalam menghadapinya. Ada pula yang mengatakan bahwa ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang terhalang beriman disebabkan ketamakan dan ingin kedudukan. Maka, mereka diperintah untuk bersabar dalam artian berpuasa[10].
Dalam tafsir al Baghawi, lafal ٱلصَّبْرِ ditafsiri dengan keinginan mencegah nafsu dari kemaksiatan. Ada pula yang mengatakan sabar dalam menjalankan sesuatu yang wajib. Adapun menurut Mujahid, lafal ٱلصَّبْرِ ditafsiri dengan الصَّبْرُ الصَّوْمُ, yang dimaksud yaitu bulan Ramadan karena disaat berpuasa, seseorang zuhud terhadap dunia. Sedangkan shalat merupakan kesenangan di akhirat. Ada yang berpendapat bahwa waw tersebut bermakna على, yakni واستعينوا بالصبر على الصلاة seperti firman Allah وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا [11].
Selain itu, urgensi sabar ialah membentuk kepribadian yang mulia, mendidik diri, memberikan sebuah pelajaran ataupun hikmah di balik bersikap sabar. Seperti QS. Ibrahim (14) :12, 21, QS. al Kahfi (18) :78,82, QS. al Ahqaf (46) :35.
C.    Macam-Macam Sabar
Sabar merupakan menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diinginkan ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Sesuai dengan definisi tersebut, yakni kesanggupan mengendalikan diri, maka pengertian kesabaran merupakan upaya pengendalian nafsu yang ada dalam diri manusia. Dalam upaya tersebut manusia dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :
1.  Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya, karena ia mempunyai daya juang dan kesabaran yang tinggi.
2.  Orang yang kalah oleh hawa nafsunya. Ia telah mencoba bertahan atas dorongan nafsunya, tetapi karena kesabarannya lemah, maka ia kalah.
3.  Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu, tetapi suatu ketika ia kalah karena besarnya dorongan nafsu. Meskipun demikian ia bangun lagi dan terus tetap bertahan dengan sabar atas dorongan nafsunya tersebut
Nabi Muhammad mengakui adanya tingkatan kesabaran, beliau membaginya atas tiga tingkatan, yaitu:
1.  Kesabaran dalam menghadapi musibah (kesabaran terendah).
2.  Kesabaran dalam mematuhi perintah Allah (kesabaran tingkat pertengahan).
3.  Kesabaran dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat (kesabaran tertinggi)[12].
Apabila melihat tingkatan yang telah disebutkan, cobaan yang paling besar yaitu ketika seseorang harus menahan hawa nafsunya untuk tidak berbuat maksiat. Padahal seseorang menjadi lemah ketika berhadapan dengan nafsu, kecuali jika seseorang tersebut benar-benar berhasil berperang melawan hawa nafsunya. Sabar dalam hal inilah yang menurut Nabi merupakan tingkatan sabar paling tinggi, dimana seseorang harus menahan hawa nafsunya sendiri untuk tidak terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan. Adapun macam-macam sabar yang disebutkan dalam al Qur’an, di antaranya :
1.      Sabar dalam Mentaati Perintah Allah
Mentaati perintah Allah menunjukkan bahwa seseorang tersebut haruslah menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Mentaati-Nya memerlukan kesabaran yang sangat besar karena dalam menjalankan perintah Allah pasti menemui cobaan yang sangat besar pula. Oleh karena itu, dalam mentaati perintah Allah terutama dalam beribadah diperlukan kesabaran. Seperti dalam firman Allah :
رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا [١٩:٦٥][13]
Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?. (QS. Maryam:65)
Tafsir al Jalalain menjelaskan bahwa lafal اعْبُدْهُ ditafsiri dengan perintah menyembah Allah dan berteguh hati dalam beribadah kepada-Nya. Sedangkan lafal وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ   ditafsiri dengan bersikap sabar dalam menjalankan kedua perkara tersebut, yakni menyembah Allah dan berteguh hati dalam beribadah kepada-Nya[14]. Penggunaan kata اصْطَبِرْ dalam ayat di atas bentuk mubalaghah dari اصبر menunjukkan bahwa dalam beribadah diperlukan kesabaran yang berlipat ganda.
Dalam tafsir al Qurtubi disebutkan bahwa وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ditafsiri dengan sabar dalam patuh kepada Allah dan tidak boleh sedih dengan berakhirnya wahyu, tapi sibukkanlah dengan suatu perkara yang baik. Lafal اصْطَبِرْ berasal dari اصْتَبِرْ, dikarenakan beratnya mengumpulkan antara ta’ dan s̩ad, maka huruf ta’ diganti dengan t̩a’, seperti lafal اصطام [15].
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam beribadah sangat diperlukan kesabaran mengingat cobaan berat yang menghadang ketika dalam menjalankan ibadah kepada-Nya.
2.      Sabar dalam Meninggalkan Kemaksiatan
Meninggalkan kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti menggunjing, dusta, memandang sesuatu yang haram, dan lain sebagainya. Kecenderungan jiwa manusia yang suka pada hal-hal yang buruk dan menyenangkan. Sedangkan perbuatan maksiat identik dengan hal-hal yang menyenangkan.
Seringkali nafsu menggerogoti dan menuntun jiwa untuk selalu mendekati dan berbuat maksiat. Hal tersebut sangat berbahaya bagi manusia karena dapat mengantarkan manusia untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh iblis. Adapun untuk mengantisipasi hal tersebut, maka seseorang haruslah memiliki sikap sabar. Seorang manusia harus bersabar untuk tidak mendekati tempat berjudi ataupun berzina, bersabar untuk tidak menggunjing orang lain, dan lain sebagainya. Dalam al Qur’an disebutkan:
وَجَزَاهُم بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا [٧٦:١٢][16]
Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutera. (QS. al Insan : 12)
Tafsir al Jalalain menafsiri lafal صَبَرُوا dengan bersikap sabar dari meninggalkan perbuatan maksiat. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah memberi balasan surga dengan pakaian sutera di dalamnya karena kesabarannya dalam meninggalakan maksiat[17]. Dalam tafsir al Thabari disebutkan bahwa sabar dalam ayat tersebut ada yang memaknai sabar dalam kefakiran, ada pula yang memaknai sabar dalam berpuasa, ada juga yang berpendapat sabar dalam kelaparan 3 hari yakni أيام النذر, ada pula yang memaknai sabar dalam patuh kepada Allah dan meninggalkan maksiat serta sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Lafal ما tersebut bermakna masdariyah. Ayat ini turun dalam segala kebaikan dan bagi orang-orang yang melakukan kebaikan. Dalam hadis yang diriwayatkan Ibn Umar disebutkan :
وروى ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن الصبر فقال : ( الصبر أربعة : أولها الصبر عند الصدمة الأولى , والصبر على أداء الفرائض , والصبر على اجتناب محارم الله , والصبر على المصائب )[18]
Kesabaran dalam meninggalkan hal kemaksiatan juga disebutkan dalam QS. an Nisa’ : 25 yang menjelaskan bahwa apabila dikhawatirkan berbuat zina, maka dianjurkan untuk menikahi budak hamba sahayanya. Namun apabila bersabar untuk tidak menikahinya, maka lebih baik[19]. Selain itu, dalam QS. Ali Imran : 200 juga disebutkan, dimana lafal ٱصْبِرُوا۟ ditafsiri dengan bersabar dalam melakukan ketaatan, menghadapi musibah, dan menghindari kemaksiatan[20]. Seperti halnya QS. Luqman : 31. Dapat ditarik kesimpulan bahwa kesabaran dalam meninggalakan maksiat sangatlah diperlukan. Kemaksiatan yang menarik seseorang di dalamnya sangat luar biasa. Hal itu membutuhkan sikap sabar yang sangat kuat.
3.      Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Cobaan dari Allah
Cobaan hidup baik fisik maupun non fisik akan menimpa semua orang, baik berupa lapar, haus, sakit, kehilangan orang yang dicintai, kerugian harta benda, dan lain sebagainya. Cobaan seperti itu bersifat alami dan manusiawi. Oleh sebab itu, tidak ada yang bisa menghindar dan hanya bisa menerimanya dengan penuh kesabaran serta menyerahkan semuanya kepada Allah. Dalam firman Allah disebutkan :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّى أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ[21]
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. ash Shaffat:102.)
Lafal إِنِّى أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ ditafsiri dengan melihat mimpi, dimana mimpi para Nabi adalah mimpi yang benar, dan semua pekerjaan mereka merupakan perintah dari Allah. Lafal أَنِّى أَذْبَحُكَ bermakna “aku diperintah untuk menyembelihmu”[22]. Ayat tersebut mengandung cerita mengenai asal mula penyembelihan hewan Qurban saat Idul Adha, yaitu ketika pada suatu malam Nabi Ibrahim bermimpi diperintah oleh Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Mimpi tersebut terulang selama 3 hari. Nabi Ibrahim baru percaya bahwa mimpi itu merupakan perintah dari Allah bukan dari syaitan. Beliau bimbang dan ragu untuk memberi tahu putranya, Ismail. Namun beliau akhirnya memberitahu putranya mengenai mimpi tersebut. Jawaban Ismail sangat mengejutkannya. Ismail mengiyakan mimpi ayahnya tersebut dan segera menyuruh ayahnya untuk melaksanakan mimpi tersebut. Lalu, ketika Ibrahim akan menyembelih Ismail, Allah menggantinya dengan domba. Hal tersebut terjadi dikarenakan kesabaran Ibrahim dalam menghadapi cobaan dan ketaatan Ismail kepada Allah dan ayahnya serta kuasa Allah yang Maha Bijaksana.
Sabar terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan banyak orang. Hal itu dikarenakan sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar, dimana sabar itu ada pada hentakan pertama. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, :
3126 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ أَتَى نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى امْرَأَةٍ تَبْكِى عَلَى صَبِىٍّ لَهَا فَقَالَ لَهَا « اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى ». فَقَالَتْ وَمَا تُبَالِى أَنْتَ بِمُصِيبَتِى فَقِيلَ لَهَا هَذَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَتْهُ فَلَمْ تَجِدْ عَلَى بَابِهِ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ « إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى ». أَوْ « عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ ».[23]
4.      Sabar dalam Gejolak Nafsu
Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan hidup, kesenangan, dan kemegahan dunia. Tak hanya itu, hawa nafsu juga dapat mengontrol emosi yang menyebabkan marah. Untuk mengendalikan segala keinginan tersebut diperlukan kesabaran. Jangan sampai kesenangan dunia tersebut membuat seseorang lupa diri, apalagi sampai lupa terhadap Allah. Al Qur’an telah mengingatkan bahwa bahwa jangan sampai harta benda dan anak-anak  (di antara yang diinginkan oleh hawa nafsu) menyebabkan seseorang lalai dari mengingat Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [٦٣:٩][24]
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS. al Munafiqun: 9)
Tafsir al Jalalain menafsiri lafal لَا تُلْهِكُمْ dengan perintah untuk tidak lalai yang disebabkan oleh أَمْوَالُكُمْ  (harta) dan أَوْلَادُكُمْ (anak-anak). Adapun lafal ذِكْرِ اللَّهِ ditafsiri dengan mengingat Allah dari melakukan shalat lima waktu[25]. Uraian tersebut menjelaskan tentang perintah untuk tidak lalai dalam mengingat Allah. Yang dimaksud yakni ketika seseorang telah terpusat pada harta dan anak-anaknya, maka tidak menutup kemungkinan seseorang tersebut akan lalai dalam menjalankan shalat lima waktu. Hal tersebut disebabkan oleh gejolak nafsu yang telah mendasar pada diri manusia.
Gejolak nafsu tersebut dapat dicegah dengan bersikap sabar. Dengan kesabaran, seseorang dapat mengukur kebutuhan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan yang mengakibatkan kelalaian dalam mengingat Allah. Sabar juga berperan dalam menahan hawa nafsu ketika marah. Menahan emosi untuk tidak marah merupakan hal tak mudah sehingga dalam sebuah hadis disebutkan :
3363 - و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : ليس الشد يد بالصرعة إنما الشديد الذي يملك نفسه عند الغضب (متفق عليه)[26]

5.      Sabar dalam Berdakwah
Jalan dakwah merupakan jalan yang panjang, berliku-liku, serta penuh dengan onak dan duri. Seseorang yang melalui jalan tersebut harus memiliki kesabaran yang penuh. Lukman Hakim menasehati putranya untuk selalu bersabar dalam berdakwah. Seperti firman Allah :
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [٣١:١٧][27]
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS. Luqman : 17)
Lafal وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ ditafsiri menyuruh manusia kepada kebaikan dan melarangnya dari berbuat kemungkaran (berdakwah). Sedangkan lafal اصْبِرْ ditafsiri dengan bersabar atas perbuatan amar ma’ruf nahi munkar[28]. Yang dimaksudkan yaitu bersikap sabar ketika berdakwah. Selain itu, QS. al A’raf : 87 juga mengandung sabar dalam berdakwah.
Seseorang yang berdakwah menegakkan agama Allah tak lepas dari pekik masalah yang akan menimpanya, seperti tidak diterima dalam masyarakat, sulit bersosialisasi dengan lingkungan, dipandang remeh oleh masyarakat sekitarnya ataupun hanya sedikit orang yang mengikutinya. Hal tersebut membutuhkan suatu sikap kesabaran yang tinggi. Tanpa sikap sabar, seseorang yang memulai untuk berdakwah tersebut akan menyerah sebelum berhasil berdakwah dan itu menandakan bahwa ia belum berhasil. Oleh karena itu, dalam berdakwah harus diiringi dengan sifat kesabaran yang tinggi.
6.      Sabar dalam Berperang (Berjihad)
Dalam peperangan maupun berjihad di jalan Allah sangat diperlukan kesabaran.  Apalagi untuk menghadapi musuh yang lebih banyak dan lebih kuat pula. Dalam keadaan terdesak sekalipun, seorang prajurit Islam tidak boleh melarikan diri dari medan perang, kecuali sebagai bagian dari siasat perang, seperti firman Allah QS. al Anfal (8:15-16). Bersikap sabar dalam peperangan maupun berjihad di jalan Allah merupakan salah satu sifat-sifat orang yang bertaqwa. Hal tersebut telah disebutkan dalam firman Allah:
 وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ [٢:١٧٧][29]
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. al Baqarah : 177)

Tafsir al Jalalain menafsiri lafal الصَّابِرِينَ ditafsiri dengan orang-orang yang sabar. Sedangkan lafal وَحِينَ الْبَأْس dengan ketika berkecamuknya perang di jalan Allah[30]. Orang-orang yang sabar dalam berperang di jalan Allah merupakan sifat orang-orang yang bertaqwa. Selain itu, bersabar dalam berperang maupun berjihad juga disebutkan dalam QS. al Baqarah :250 dan QS. Ali Imran : 125.
7.      Sabar dalam Pergaulan
Dalam pergaulan sesama manusia, baik antara suami istri, antara orang tua dengan anak, antara tetangga dengan tetangga, antara guru dan murid, atau dalam masyarakat yang lebih luas, akan ditemui hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Oleh sebab itu, dalam pergaulan sehari-hari diperlukan kesabaran, sehingga tidak cepat marah atau memutuskan hubungan apabila menemui hal-hal yang tidak disukai. Seperti firman Allah :
وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَٱصْبِرُوٓا۟ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ[31]
Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. (QS. al Anfal :46)

Lafal وَلَا تَنَٰزَعُوا ditafsiri dengan perintah untuk tidak bersengketa di antara sesama saudara ataupun manusia. Sedangkan lafal وَٱصْبِرُوٓا ditafsiri dengan perintah untuk bersabar[32]. Bersikap sabar dalam pergaulan sangat diperlukan. Dengan adanya sabar, tidak akan terjadi persengketaan dan menciptakan ketentraman. Hal tersebut dikarenakan setiap akan bersengketa, sikap sabar itu datang dalam artian seseorang dapat menahan diri untuk tidak bersengketa dengan yang lain.
D.    Faedah Sabar
Al Qur’an merupakan sumber petunjuk dan pengajaran bagi manusia. Tak heran, apabila di dalamnya terdapat berbagai pelajaran dan faedah yang dapat diambil bagi seluruh manusia di muka bumi, seperti halnya sabar. Dalam al Qur’an telah disebutkan berbagai faedah dan pelajaran yang dapat diambil dan diaplikasikan oleh manusia dalam kehidupan. Di antara faedah bersikap sabar, antara lain[33] :
1.      Mendapatkan kebersamaan Allah yang khusus (Ma’iyat Allahi al Khas̩s̩ah)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ[34]
Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS. al Baqarah:153)
Tafsir al Jalalain menafsiri lafal اسْتَعِينُوا dengan meminta pertolongan dalam taat beribadah dan mengahadapi cobaan[35]. Dalam ayat tersebut, Allah akan bersama dengan orang-orang yang bersikap sabar, dalam artian Allah akan menolong mereka yang sabar dalam beribadah dan menghadapi cobaan. Hal tersebut merupakan kekhususan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang telah bersikap sabar.
2.      Allah menjadikan seseorang pemimpin agama sebab kesabaran
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ[36]
dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.(QS. as Sajdah:24)
Lafal أَئِمَّةً ditafsiri dengan pemimpin-pemimpin. Lafal يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا ditafsiri dengan memberi petunjuk kepada manusia, berupa mengajak berbuat baik, dan taat kepada perintah Allah. Sedangkan lafal لَمَّا صَبَرُوا ditafsiri dengan bersabar dalam memegang agama dan menghadapi musuh-musuhnya[37]. Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa Allah menjadikan seseorang pemimpin yang bertujuan memberikan petunjuk, yakni mengajak berbuat baik. Allah menjadikannya pemimpin atas dasar kesabarannya dalam menjaga dan memegang teguh tali Allah dan sabar dalam menghadapi musuh-musuhnya.
3.      Allah menolong mereka atas musuh-musuhnya apabila mereka bersabar dan bertakwa
بَلَىٰ إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ[38]
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran:125)
Dalam tafsir al Jalalain, lafal إِن تَصْبِرُوا ditafsiri dengan seseorang yang apabila bersabar dalam menghadapi musuh, sedangkan lafal وَيَأْتُوكُم مِّن فَوْرِهِمْ ditafsiri dengan kedatangan mereka, yakni orang-orang musyrikin yang tiba-tiba. Lafal هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم menjelaskan mengenai pertolongan Allah[39]. Imam al Qurtubi juga menafsiri sabar dalam ayat tersebut dengan bersabar dalam menghadapi musuh dan bertaqwa kepada Allah dengan meninggalkan kemaksiatan[40]. Ayat ini mengandung makna bahwa Allah mengirimkan pertolongan bagi mereka yang bersabar dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Allah telah menepati janji-Nya, yakni dengan mengirimkan pasukan malaikat di atas kuda-kuda belang dengan memakai serban berwarna kuning atau putih yang mereka lepaskan teruntai di atas bahu. Pertolongan Allah akan selalu mengalir bagi mereka yang bersabar dan bertaqwa. Seperti halnya QS. Ali Imran : 120.
4.      Orang yang sabarlah yang dapat mengambil manfaat dan pelajaran atas ayat-ayat Allah
أَلَمْ تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنْ آيَاتِهِ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ[41]
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar dilaut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkannya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. Luqman:31)
Lafal لِيُرِيَكُم berarti Allah memperlihatkan kepada manusia, sedangkan lafal مِّنْ آيَاتِهِ berarti sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Lafal لَآيَاتٍ diartikan tanda-tanda, yaitu pelajaran-pelajaran yang dapat diambil[42]. Dari keterangan penafsiran tersebut, diketahui bahwa Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada manusia. Namun, tanda-tanda kekuasaan tersebut hanya dapat diambil pelajaran oleh orang-orang yang bersabar dan bersyukur. Dikarenakan dengan sikap sabar dalam menghadapi cobaan dan bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadanya, seseorang dapat mengambil suatu pelajaran dari sikap tersebut.
Semisal contoh seseorang diberi cobaan oleh Allah berupa kecelakaan mobil. Hal tersebut membuat ia tak sadarkan diri beberapa bulan. Namun, sang keluarga sangat bersabar dan telaten dalam merawatnya. Hingga suatu ketika Allah menolongnya dari ketidaksadaran tersebut. Sampai akhirnya ia sadar dari koma dan dapat sembuh sehingga bisa menjalani kehidupannya kembali. Hal itu merupakan sedikit dari tanda-tanda Allah yang dapat dipetik pelajaran bagi mereka yang bersabar dan bersyukur.
Seluruh ayat-ayat di atas, menunjukkan bahwa ayat-ayat Allah hanya dapat diambil pelajaran dan faedah oleh orang-orang yang sabar dan bersyukur. Demikian juga sabda Rasulullah S̩alla Allah 'Alaihy  wa Sallam:
 من يتصبر يصبره الله و ما أعطي أحد من عطاء هو خير و أوسع من الصبر أخرجاه في الصحيح من حديث مالك[43]
Siapa yang bersabar maka Allah akan menjadikannya sabar dan tidaklah ada satu pemberian kepada seorangpun yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.

E.     Balasan Bagi Orang yang Berbuat Sabar
Sabar merupakan suatu sikap yang harus dimiliki oleh seseorang. Dalam manjalani kehidupan, seseorang dituntut untuk bersikap sabar. Adakalanya seseorang tersebut harus sabar ketika menghadapi musibah, sabar dalam berjihad, dan lain sebagainya. Allah telah menjanjikan balasan bagi orang-orang yang berbuat sabar, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara balasan-balasan bagi orang yang berbuat sabar, yaitu :
1.      Mendapatkan pujian dari Allah
Balasan bagi orang ang berbuat sabar salah satunya yakni mendapat pujian dari Allah. Allah telah manjanjikan dalam firman-Nya:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ [44]
bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.(QS. al Baqarah:177)
Tafsir al Jalalain menafsiri lafal الصَّابِرِينَ dengan orang-orang yang sabar dalam menghadapi segala cobaan dan kesusahan. Lafal صَدَقُوا ditafsiri dengan bentuk pujian yakni orang-orang yang benar imannya. Sedangkan lafal الْمُتَّقُونَ ditafsiri dengan bentuk pujian yakni termasuk orang-orang yang bertaqwa[45]. Ayat tersebut menjelaskan mengenai balasan bagi orang-orang yang sabar yakni berupa pujian dari Allah. Allah memuji kesabaran seseorang dengan mengatakan bahwa mereka, yakni orang-orang yang bersikap sabar termasuk orang yang benar imannya dan bertaqwa. Selain itu, balasan pujian dari Allah bagi orang yang sabar juga disebutkan dalam QS. al Mu’minun (23) :111, QS. as Syuraa (42) :43.
2.      Mendapat kecintaan dari Allah
Kecintaan Allah tak hanya datang bagi orang-orang yang berbuat baik dan bertaqwa. Melainkan kecintaan Allah juga datang kepada orang-orang yang berbuat sabar. Seperti firman Allah, yaitu:
وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ[46]
dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran:146)
Tafsir al Jalalain menafsiri lafal وَمَا ضَعُفُوا dengan tidak menjadi lemah dalam berjuang menghadapi musuh, dan lafal وَمَا اسْتَكَانُوا ditafsiri dengan tidak pula menyerah atau tunduk terhadap musuh-musuh. Sedangkan lafal وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ berarti bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar dalam menerima bala’ sampai Allah mengirimkan pertolongan kepadanya[47]. Ayat tersebut menjelaskan bahwa kecintaan Allah ditujukan kepada hambanya yang tidak menyerah dan bersabar dalam menghadapi musuh. Hal tersebut dikarenakan mereka bertaqwa kepada Allah dan Rasul-Nya.
3.      Allah bersama dengan orang-orang yang sabar
Kesabaran yang dilakukan seseorang merupakan sebuah perjuangan. Dimana ketika ia bersikap sabar, ia harus melawan hawa nafsu, bersikap tegar, dan tidak lemah. Hal tersebut menjadi nilai plus bagi orang yang mengerjakannya. Tak heran, apabila Allah akan bersama dengan orang-orang yang bersikap sabar. Dalam firman-Nya disebutkan :
ٱلْـَٰٔنَ خَفَّفَ ٱللَّهُ عَنكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِن يَكُن مِّنكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ[48]
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al Anfal:66)
Ayat di atas menjelaskan mengenai kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar. Sabar dalam ayat tersebut merupakan sabar dalam menghadapi musuh. Mereka tidak mampu lagi untuk melawan musuh dikarenakan jumlah musuh lebih banyak dari perkiraan sehingga menyebabkan pasukan berantakan. Di saat seperti ini, mereka tetap bersabar dalam menjalaninya. Oleh karena itu, Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar dalam artian pertolongan Allah selalu menyertai mereka[49].
4.      Shalawat, rahmat, dan hidayah bersama orang-orang yang sabar
Allah sangat memuliakan orang yang berbuat sabar. Bagi orang yang sabar, Allah memudahkan segala urusannya. Orang yang berbuat sabar selalu dikelilingi oleh shalawat, rahmat, dan hidayah. Hal tersebut telah disiapkan oleh Allah kepada orang-orang yang berbuat sabar. Dalam al Qur’an disebutkan :
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ [١٥٥] الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ [١٥٦] أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [١٥٧][50]
dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun (Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah))”. (156) mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (157).(QS. al Baqarah:155-157).
Dalam tafsir al Jalalain, وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ ditafsiri dengan Allah memberikan cobaan kepada manusia, yaitu berupa الْخَوْفِ (ketakutan akan musuh), الْجُوعِ (kelaparan pada masa kemarau), وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ (kekurangan harta karena malapetaka dan kematian atau penyakit). Lafal وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ditafsiri dengan kabar gembira bagi mereka yang bersabar karena akan menerima pahala kesabaran tersebut. Dari uraian penafsiran QS. al Baqarah : 155 dalam tafsir al Jalalain, dapat disimpulkan bahwa kesabaran juga harus dilakukan ketika menerima cobaan apapun dari Allah.
Adapun cara bersikap sabar, dapat diketahui dari QS. al Baqarah : 156, yakni dengan mengucapkan doa istirja’, yaitu إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُون.  Pengucapan doa istirja’ bukan hanya melalui mulut, melainkan juga melalui hati. Hal tersebut dikarenakan kita sebagai makhluk akan kembali kepada Allah yang menciptakan kita[51]. Lafal الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ ditafsiri dengan cobaan. Sedangkan QS. al Baqarah : 157 menjelaskan tentang balasan bagi orang yang sabar dengan mengucapkan doa istirja’ tersebut. Balasan bagi orang sabar tersebut berupa kenikmatan, hidayah, dan rahmat karena semua itu akan selalu mengiringi orang yang berbuat sabar[52].
5.      Mendapatkan ganjaran yang lebih baik dari amalannya
Setiap manusia pasti pernah mendapatkan cobaan. Cobaan tersebut bukan berarti Allah tidak sayang kepadanya, melainkan Allah sangat manyayanginya dan Allah tidak memberi cobaan kepada manusia melebihi batas kemampuannya. Dengan cobaan tersebut, Allah menguji keimanan manusia. Apakah ia mengeluh dengan adanya cobaan tersebut ataupun malah bersabar dalam menghadapinya. Bagi mereka yang bersabar dalam menghadapi cobaan tersebut, Allah membalasnya dengan memberikan ganjaran kepadanya melebihi amalan kebaikannya. Seperti dalam firman Allah, yaitu:
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ[53]
dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar. Sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. an Nahl:126)
Penafsiran lafal وَلَئِن صَبَرْتُمْ yaitu ketika memilih untuk bersabar dalam artian tidak ingin membalas siksaan yang diperlakukan kepadanya. Lafal خَيْرٌ berarti lebih baik, sedangkan لِّلصَّابِرِينَ berarti bagi orang-orang yang sabar. Ayat tersebut mengisahkan tentang peristiwa yang dengan ayat tersebut Nabi akhirnya membatalkan sumpahnya dan membayar kafarat[54]. Dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa perlakuan tidak baik harus dibalas dengan balasan yang sama. Namun, ketika seseorang tersebut tidak ingin membalasnya melainkan bersabar, maka hal tersebut lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Baginya akan mendapatkan pahala yang lebih baik dari amalan-amalan yang lainnya.
6.      Mendapat ampunan dan pahala dari Allah
Salah satu balasan Allah bagi orang yang besikap sabar yaitu mendapat ampunan dan pahala dari Allah. Cobaan yang diberikan Allah kepadanya membuahkan ampunan dan pahala baginya. Hal tersebut dapat menyelamatkannya di akhirat kelak. Dalam al Qur’an disebutkan :
إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ[55]
kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.(QS. Hud:11)
Dalam tafsir al Jalalain, lafal صَبَرُوا dimaknai dengan orang-orang yang bersabar dalam menghadapi bencana dan lafal وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ dimaknai dengan orang-orang yang beramal shalih sewaktu diberi kebahagian padanya. Sedangkan lafal مَّغْفِرَةٌ dimaknai dengan ampunan, serta وَأَجْرٌ كَبِيرٌ dimaknai dengan pahala yang besar[56]. Ayat tersebut menjelaskan bahwa ampunan dan pahala yang besar diperuntukkan bagi mereka yang bersabar dalam menghadapi cobaan dan beramal shalih ketika berbahagia. Ampunan dan pahala yang besar yang diberikan tersebut berupa surga.
7.      Mendapat martabat yang tinggi di dalam Surga
Bagi orang yang bersikap sabar, banyak sekali balasan yang Allah berikan kepadanya. Di antara balasan tersebut, yaitu mendapat martabat yang tinggi di surga kelak. Tidak ada seseorang yang tidak menginginkan martabat tinggi di surga. Rasulullah S̩alla Allah 'Alaihy wa Sallam bersabda :
64 - (2999) حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ، وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، جَمِيعًا عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ - وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ - حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ صُهَيْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»[57]
Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim).
Dalam firman Allah juga disebutkan :
أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا[58]
Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam. (QS. al Furqan : 75)
Lafal يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ ditafsiri dengan balasan tertinggi di surga, sedangkan lafal بِمَا صَبَرُوا ditafsiri dengan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah[59]. Ayat tersebut mengandung balasan bagi mereka yang bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, yakni akan mendapatkan martabat tertinggi dan di sambut di dalam surga yang paling tinggi martabatnya dengan penghormatan dan ucapan salam dari para Malaikat. Sikap sabar yang dibalas dengan balasan yang sangat tinggi derajatnya.


III. Kesimpulan
Sabar secara etimologis berasal dari bahasa Arab  صبر يصبر صبرا"", yang berarti menahan. Sabar dalam istilah agama Islam adalah teguh dan tahan menetapi pengaruh yang disebabkan oleh agama untuk menghadapi atau menentang pengaruh yang ditimbulkan oleh hawa nafsu. Sedangkan lawan kata dari  صبر yaitu جزع yang berarti tidak sabar, gelisah, sedih dan keluh kesah. Al Qur’an menyebutkan lafal sabar sebanyak 103 kali dalam 93 ayat. Adapun ayat-ayat yang menerangkan tentang sabar, di antaranya QS. al Baqarah (2:155-157), QS. Ali Imran (3:142), QS. al A’raf (7:87), dan lain sebagainya.
Kesabaran merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah. Urgensi sabar antara lain menjadi penolong ketika menghadapi kesulitan ataupun musuh, membentuk kepribadian yang mulia, mendidik diri, memberikan sebuah pelajaran ataupun hikmah di balik bersikap sabar, dan lain-lain.
Dalam upaya pengendalian diri (bersabar), Nabi Muhammad mengakui adanya tingkatan kesabaran. Beliau membaginya atas tiga tingkatan, yaitu kesabaran dalam menghadapi musibah (kesabaran terendah), kesabaran dalam mematuhi perintah Allah (kesabaran tingkat pertengahan), kesabaran dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat (kesabaran tertinggi). Adapun macam-macam sabar meliputi sabar dalam mentaati perintah Allah, sabar dalam meninggalkan kemaksiatan, sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah, sabar dalam gejolak nafsu, sabar dalam berdakwah, sabar dalam berperang (berjihad), sabar dalam pergaulan.
Adapun faedah berbuat sabar, di antaranya mendapatkan kebersamaan Allah yang khusus (Ma’iyat Allahi al Khas̩s̩ah), Allah menjadikan seseorang pemimpin agama sebab kesabaran, Allah menolong mereka atas musuh-musuhnya apabila mereka bersabar dan bertakwa. Selain itu, Allah telah menyiapkan balasan bagi orang yang berbuat sabar, yakni mendapatkan pujian dari Allah, mendapat kecintaan dari Allah, Allah bersama dengan orang-orang yang sabar, shalawat, rahmat, dan hidayah bersama orang-orang yang sabar, mendapatkan ganjaran yang lebih baik dari amalannya, dan mendapat martabat yang tinggi di dalam Surga.

Daftar Pustaka
Al Qur’an al Karim
Abadi, Majd al Dīnabu T̩āhir Muhammad bin Ya’qub al Fairuz. al Qāmus al Muhīt̩. Beirut: Muassasah al Risalah, 2005.
Anas, Mālik bin. al Muwatta’. ttp: Muassasah Zayid bin Sultan Ali Nihyan, 2004.
Baghawi (al), Abu Muhammad al Husain bin Mas’ud. Ma’alīm al Tanzīl fi Tafsīr al Qur’an. Beirut: Dar al Thaibah li al Nashir wa al Tauzi’, 1997.
Baihaqi (al), Abu Bakar Ahmad bin Husain. S̩u’b al Īmān. Beirut: Dar al Kutub al ‘Alamiyyah, 1410 H.
Bayd̩āwī (al), Nashr al Din Abu Sa’id Abdullah bin Umar bin Muhammad al Shayrāzi. Anwār al Tanzīl wa Asrār al Ta’wīl. Beirut: Dar Ihya’ al Turats al ‘Arabi, 1418 H.
Fitrah. Aqidah Akhlaq. Surakarta: Putra Nugraha, tth.
Ghozali (al). Bimbingan Untuk Mencapai Tingkatan Mukmin. Bandung: CV. Diponegoro, 1994.
Hidayani, Nurul. “Sabar Perspektif Al-Qur’an dan Hadits”, dalam http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/Sabar-Perspektif-al Qur’an-dan-Hadits, (diakses pada 24 Desember 2014).
IlkāI (al), Abu al Qasim Habatullah bin al Hasan bin Mansur al T̩abari al Rāzi. S̩arh Ushul I’tiqad Ahlu al Sunnah wa al Jama’ah. Saudi: Dar Thayyibah, 2003.
Ju’fī (al), Muhammad bin Ismaīl Abu Abdullah al Bukhārī. Shahih Bukhari. ttp: Dar T̩uq al Najah, 1422 H.
Mudlor, Atabik A. Zuhdi. Kamus Kontemporer Arab-Indonesia Krapyak al ‘As̩ri. Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tth.
Naysāburī (al), Muslim bin al Hajāj Abu al Hasan al Qus̩ayrī. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al Turath al ‘Arabi, tth.
Niswati, Khoirin. “Aplikasi Pengajian Tafsir Jalalain Dalam Perilaku Masyarakat Desa Gagakan Sambong”. Skripsi di STAI Al Muhammad Cepu, 2012.
Qurtubī (al), Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al Ans̩ari Sham al Dīn. Jāmi’ li Ahkam al Qur’an. al Qahirah: Dar al Kutub al Qahirah, 1964.
Sijistani (al), Abu Dawud Sulaiman bin al As̩’ath. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar al Kitab al Arabi, tth.
Suyuti (al), Jalaluddin Abdurrahman Abu Bakar. Tafsir al Jalalain. Surabaya: al Haramain, 2008.
Syihab, M. Quraish. Secercah Cahaya Ilahi. Bandung: Mizan, 2007.
T̩abarī (al), Muhammad bin Jarīr bin Yazīd bin Kathīr bin Ghālib al Āmili Abu Ja’far. Jami’ al Bayan fi Ta’wil al Qur’an. Beirut: Muassasah al Risalah, 2000.


[1] Al Qur’an, 6:42.
[2] Muhammad bin Ismaīl Abu Abdullah al Bukhārī al Ju’fī, Shahih Bukhari, (ttp: Dar T̩uq al Najah, 1422 H), 7:114.
[3] Atabik A. Zuhdi Mudlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia Krapyak al ‘As̩ri, (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tth), 1165-1166.
[4] Majd al Dīnabu T̩āhir Muhammad bin Ya’qub al Fairuz Abadi, al Qāmus al Muhīt̩, (Beirut: Muassasah al Risalah, 2005), 422.
[5] Al Ghozali, Bimbingan Untuk Mencapai Tingkatan Mukmin, (Bandung: CV. Diponegoro, 1994), 904.
[6] M. Quraish Syihab, Secercah Cahaya Ilahi, (Bandung: Mizan, 2007), 165.
[7] Khoirin Niswati, “Aplikasi Pengajian Tafsir Jalalain Dalam Perilaku Masyarakat Desa Gagakan Sambong”. (Skripsi di STAI Al Muhammad Cepu, 2012), 28.
[8] Abu al Qasim Habatullah bin al Hasan bin Mansur al T̩abari al Rāzi al Ilkāi, S̩arh Ushul I’tiqad Ahlu al Sunnah wa al Jama’ah, (Saudi: Dar Thayyibah, 2003), 4: 924.
[9] Al Qur’an, 2:45.
[10] Jalaluddin Abdurrahman Abu Bakar al Suyuti, Tafsir al Jalalain, (Surabaya: al Haramain, 2008), 1: 8.
[11] Abu Muhammad al Husain bin Mas’ud al Baghawi, Ma’alīm al Tanzīl fi Tafsīr al Qur’an, (Beirut: Dar al Thaibah li al Nashir wa al Tauzi’, 1997), 89.
[12] Khoirin Niswati, “Aplikasi Pengajian Tafsir Jalalain dalam Perilaku Masyarakat Desa Gagakan Sambong”. (Skripsi di STAI Al Muhammad Cepu, 2012), 29.
[13] Al Qur’an, 19:65.
[14] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 2: 17.
[15] Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al Ans̩ari Sham al Dīn al Qurtubī, Jāmi’ li Ahkam al Qur’an, (al Qahirah: Dar al Kutub al Qahirah, 1964), 11:30.
[16] Al Qur’an, 76:12.
[17] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 2:245.
[18] Muhammad bin Jarīr bin Yazīd bin Kathīr bin Ghālib al Āmili Abu Ja’far al T̩abarī, Jami’ al Bayan fi Ta’wil al Qur’an, (Beirut: Muassasah al Risalah, 2000), 24:101.
[19] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 75.
[20] Ibid., 1: 69.
[21] Al Qur’an, 37:102.
[22] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 2: 132.
[23] Abu Dawud Sulaiman bin al As̩’ath al Sijistani, Sunan Abi Dawud, (Beirut: Dar al Kitab al Arabi, tth), 3:161.
[24] Al Qur’an, 63:9.
[25] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 2: 222.
[26] Mālik bin Anas, al Muwatta’, (ttp: Muassasah Zayid bin Sultan Ali Nihyan, 2004), 5:1332.
[27] Al Qur’an, 31:17.
[28] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 2: 101.
[29] Al Qur’an, 2:177.
[30] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 25.
[31] Al Qur’an, 8:46.
[32] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 153.
[33] Nurul Hidayani, “Sabar Perspektif Al-Qur’an dan Hadits”, dalam http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/Sabar-Perspektif-al Qur’an-dan-Hadits, (diakses pada 24 Desember 2014)
[34] Al Qur’an, 2:153.
[35] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 22.
[36] Al Qur’an, 32:24.
[37] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 2: 105.
[38] Al Qur’an, 3:125.
[39] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 60.
[40] Al Qurtubī, Jāmi’ li Ahkam al Qur’an, 4:195.
[41] Al Qur’an, 31:31.
[42] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 2: 103
[43] Abu Bakar Ahmad bin Husain al Baihaqi, S̩u’b al Īmān, (Beirut: Dar al Kutub al ‘Alamiyyah, 1410 H), 3:267.
[44] Al Qur’an, 2:177.
[45] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 25.
[46] Al Qur’an, 3:146.
[47] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 62.
[48] Al Qur’an, 8:66.
[49] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 155.
[50] Al Qur’an, 2:155-157.
[51] Nashr al Din Abu Sa’id Abdullah bin Umar bin Muhammad al Shayrāzi al Bayd̩āwī, Anwār al Tanzīl wa Asrār al Ta’wīl, (Beirut: Dar Ihya’ al Turats al ‘Arabi, 1418 H), 115.
[52] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 64.
[53] Al Qur’an, 16:126.
[54] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 226.
[55] Al Qur’an, 11:11.
[56] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 1: 181.
[57] Muslim bin al Hajāj Abu al Hasan al Qus̩ayrī al Naysāburī, Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya’ al Turath al ‘Arabi, tth), 4:2295.
[58] Al Qur’an, 25:75.
[59] Al Suyuti, Tafsir al Jalalain, 2: 65.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar