SABAR
DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN
Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir
Praktik Penafsiran Tematik
Dosen Pengampu :
Najib Buchori, Lc. M. Th. I
Oleh
:
‘Azzah Nurin Taufiqotuzzahro’
NIM: 2012. 01.
01. 058
PROGRAM STUDI ILMU AL QUR’AN DAN TAFSIR
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL ANWAR
SARANG REMBANG
2014
SABAR
DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN
Oleh
: ‘Azzah Nurin Taufiqotuzzahro’
I.
Pendahuluan
Al Qur’an merupakan mu’jizat Islam yang kekal yang selalu diperkuat
oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Al Qur’an diturunkan Allah kepada Rasulullah,
Muhammad untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju suasana yang
terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus. Kandungan al Qur’an mencakup
berbagai macam aspek kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat, seperti
keanekaragaman sifat yang dimiliki oleh manusia, adakalanya baik dan buruk.
Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa al Qur’an merupakan buku pertama
yang mengaplikasikan perilaku dalam kemasyarakatan, seperti halnya sabar.
Dalam menjalani
hidup di dunia, manusia mengalami berbagai peristiwa yang membuatnya suka,
senang, bahagia, duka, menderita, dan sebagainya. Problematika dan romantika yang
silih berganti selalu melingkupi manusia selama ia masih hidup. Manusia dalam hidupnya seringkali diberi ujian dan cobaan oleh
Allah. Berhasil atau tidaknya manusia dalam menghadapi cobaan tersebut,
tergantung kepada diri manusia itu sendiri. Tetapi Allah telah memberikan
petujuk kepada hamba-Nya dalam menghadapi cobaan yang ada, yaitu dengan cara
bersabar diri. Dengan bersabar, manusia akan memperoleh kesuksesan dalam
hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.
Bagi seorang
mukmin, cobaan akan dimaknai sebagai ujian keimanan atau sebagai peringatan
kepadanya atas dosa yang pernah diperbuat. Di dalam al Qur’an, Allah berfirman:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ
مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ
[٦:٤٢][1]
dan
Sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum
kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan
kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan
diri. (QS. al An’am : 42)
Allah menegaskan dalam ayat tersebut bahwa
manusia diberi kesengsaraan dan kemelaratan yang tujuannya agar menjadi
pelajaran bagi mereka, sehingga mereka bertaubat dan mengikuti seruan Rasul.
Melalui musibah, Allah akan menaikkan derajat seseorang dan dengan musibah pula
dosa seorang mukmin akan dihapus serta diampuni, sebagaimana terdapat dalam
sebuah hadis riwayat Abu Sa’id dan Abu Hurairah berikut:
وَعَنْ
اَبِى سَعِيْدٍ وَ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ
هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ وَلاَ اَذَى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا اِلاَّ
كَفَرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ (متفق عليه)[2]
Dari Abu Sa’id dan Abu
Hurairah ra dari Nabi S̩alla Allah 'Alaihy wa Sallam, beliau bersabda: “Seorang
muslim yang tertimpa kecelakaan, kemelaratan, kegun-dahan, kesedihan, kesakitan
maupun dukacita sampai-sampai tertusuk duri, niscaya Allah akan menebus dosanya
dengan apa yang menimpanya itu.” (HR. Muttafaq’alaih).
Hadis tersebut menerangkan bahwa orang muslim
itu diuji oleh Allah dengan segala macam musibah supaya mereka bersabar dalam
menghadapi cobaan tersebut. Jika mereka sabar, maka Allah akan menghapus
dosa-dosa mereka.
Selain itu, bersabar bukan
hanya dilakukan ketika kita mengalami kesusahan dan bencana, namun bersabar
juga harus dilakukan dalam ketaatan terhadap perintah agama. Misalnya, dalam
melaksanakan ibadah shalat, puasa, zakat, dan haji sangat memerlukan kesabaran.
Mengerjakan shalat 5 kali sehari adalah mendidik diri pribadi sabar yang
menjadi kebiasaan sehari-hari dalam menjalankannya dengan menuntut keridhaan-Nya.
Sabar dan shalat banyak mengandung hikmah antara lain : taat, patuh,
setia, dan bertaqwa kepada Allah. Maka, ini menjadi penting
untuk dikaji, karena untuk mengaplikasikan sifat sabar itu sendiri dalam
kehidupan bermasyarakat. Dalam makalah ini, akan dibahas tentang pengertian
sabar, macam-macam sabar, serta balasan bagi orang yang berbuat sabar dalam
perspektif al Qur’an.
II.
Sabar dalam Perspektif al Qur’an
A.
Pengertian Sabar
Sabar
secara etimologis berasal dari bahasa Arab صبر
يصبر صبرا"", yang berarti menahan. Menurut Kamus Kontemporer Arab
Indonesia, kata صبر berarti bersabar (tabah hati), menahan, mencegah, dan menanggung[3]. Dalam
Kamus al Muhit̩, kata صبر dapat dimaknai dengan robohnya kegelisahan, menanggung. Ada
pula الصبر dengan meng-kasrah s̩ad-nya
yang artinya obat yang pahit, yakni sari pepohonan yang pahit. Menyabarkannya
berarti menyuruhnya bersabar. Bulan sabar, berarti bulan puasa. Ada pula الصبر dengan men-dhammah s̩ad-nya
yang artinya tertuju pada tanah yang subur karena kerasnya[4].
Sabar
dalam istilah agama Islam adalah teguh dan tahan menetapi pengaruh yang
disebabkan oleh agama untuk menghadapi atau menentang pengaruh yang ditimbulkan
oleh hawa nafsu[5].
Quraish Syihab dalam bukunya, Secercah Cahaya Ilahi mendefinisikan sabar
sebagai menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi tercapai
sesuatu yang baik atau lebih baik (luhur)[6]. Menurut al Ghazali,
sabar adalah suatu kondisi mental dalam mengendalikan nafsu yang tumbuhnya
adalah atas dorongan ajaran agama. Sedangkan secara istilah, sabar ialah
menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu
yang tidak diinginkan ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi.
Sesuai dengan definisi tersebut, yakni kesanggupan mengendalikan diri, maka pengertian
kesabaran merupakan upaya pengendalian nafsu yang ada dalam diri manusia[7].
Sedangkan
lawan kata dari صبر yaitu جزع yang berarti tidak sabar, gelisah, sedih dan
keluh kesah, seperti yang telah disebutkan dalam al Qur’an QS. Ibrahim (14)
:21, QS. al Ma’arij (70) :19-22. Al Qur’an menyebutkan lafal sabar sebanyak 103
kali dalam 93 ayat.
Allah menyuruh
makhluk-Nya untuk bersabar. Oleh karena itu, Allah menyebutkan sabar dalam al
Qur’an sebanyak lebih dari 30 surat dalam berbagai bentuk, di antaranya اصبر,
اصبروا, صابرا, صابرة, صابرون.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa sabar memang diperhatikan oleh Allah. Al
Qur’an tak hanya menyebutkan seseorang harus bersikap sabar dalam menghadapi
cobaan saja, melainkan juga bersikap sabar dalam segala hal. Adapun ayat-ayat
yang menerangkan tentang sabar, di antaranya QS. al Baqarah (2:155-157), QS. Ali
Imran (3:142), QS. al A’raf (7:87), QS. Yusuf (12:90), QS. ar Ra’d (13:22), QS.
al Kahfi (18:28), QS. as Sajdah (32:24), QS. ash Shaffat (37:102), QS. at Tur (52:16), QS. al Balad
(90:17), dan lain sebagainya.
B.
Urgensi Sabar
Kesabaran
merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah. Sebagian
ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengah dari keimanan. Sabar memiliki kaitan yang tidak mungkin
dipisahkan dari keimanan. Kaitan antara
sabar dengan iman seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan yang tidak
disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak memiliki
kepala. Seperti dalam hadis :
1569 - أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ،
قَالَ: ثنا أَبُو الْقَاسِمِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَارِسِيُّ،
قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ نُوحِ بْنِ حَرْبٍ، قَالَ: ثنا مَرْوَانُ بْنُ آدَمَ،
قَالَ: ثنا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ، عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ، عَنْ عَلِيٍّ،
قَالَ: «الصَّبْرُ مِنَ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ مَنْ
لَا صَبْرَ لَهُ لَا إِيمَانَ لَهُ»[8]
Namun
kesabaran bukan semata-mata memiliki pengertian "nrimo",
ketidakmampuan, dan identik dengan ketertindasan. Sabar sesungguhnya memiliki
dimensi yang lebih pada pengalahan hawa nafsu yang terdapat dalam jiwa manusia.
Dalam berjihad, sabar diimplementasikan dengan melawan hawa nafsu yang
menginginkan agar dirinya duduk dengan santai dan tenang di rumah. Justru
ketika ia berdiam diri itulah, sesungguhnya ia belum dapat bersabar melawan tantangan
dan memenuhi panggilan Ilahi.
Al Qur’an
telah mengisyaratkan mengenai pentingnya bersikap sabar. Hal tersebut menjadi
urgensi sabar. Adapun urgensi sabar, di antaranya sabar menjadi penolong ketika
mendapat cobaan, baik itu berupa musuh maupun yang lain. Seperti dalam firman
Allah:
Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar
dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyuk, (QS. al Baqarah: 45)
Dalam tafsir al Jalalain, lafal وَٱسْتَعِينُوا ditafsiri
dengan meminta pertolongan dalam menghadapi urusan dan kesulitan-kesulitan.
Sedangkan lafal ٱلصَّبْرِ ditafsiri dengan bersikap sabar yakni
menahan diri dari hal-hal yang tidak baik. Ayat tersebut diperuntukkan bagi
orang-orang yang mengalami cobaan maupun kesulitan agar mereka sabar dalam
menghadapinya. Ada pula yang mengatakan bahwa ayat tersebut ditujukan kepada
orang-orang Yahudi yang terhalang beriman disebabkan ketamakan dan ingin
kedudukan. Maka, mereka diperintah untuk bersabar dalam artian berpuasa[10].
Dalam tafsir al Baghawi, lafal ٱلصَّبْرِ ditafsiri dengan keinginan mencegah
nafsu dari kemaksiatan. Ada pula yang mengatakan sabar dalam menjalankan
sesuatu yang wajib. Adapun menurut Mujahid, lafal ٱلصَّبْرِ ditafsiri dengan الصَّبْرُ الصَّوْمُ, yang dimaksud yaitu bulan Ramadan karena disaat berpuasa,
seseorang zuhud terhadap dunia. Sedangkan shalat merupakan kesenangan di
akhirat. Ada yang berpendapat bahwa waw tersebut bermakna على,
yakni واستعينوا بالصبر على الصلاة seperti firman Allah وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا [11].
Selain itu, urgensi sabar ialah membentuk
kepribadian yang mulia, mendidik diri, memberikan sebuah pelajaran ataupun
hikmah di balik bersikap sabar. Seperti QS. Ibrahim (14) :12, 21, QS. al Kahfi
(18) :78,82, QS. al Ahqaf (46) :35.
C.
Macam-Macam
Sabar
Sabar
merupakan menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan
sesuatu yang tidak diinginkan ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang
disenangi. Sesuai
dengan definisi tersebut, yakni kesanggupan mengendalikan diri, maka pengertian
kesabaran merupakan upaya pengendalian nafsu yang ada dalam diri manusia. Dalam
upaya tersebut manusia dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :
1. Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya, karena ia mempunyai
daya juang dan kesabaran yang tinggi.
2. Orang yang kalah oleh hawa nafsunya. Ia telah mencoba bertahan atas
dorongan nafsunya, tetapi karena kesabarannya lemah, maka ia kalah.
3. Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu, tetapi
suatu ketika ia kalah karena besarnya dorongan nafsu. Meskipun demikian ia
bangun lagi dan terus tetap bertahan dengan sabar atas dorongan nafsunya
tersebut
Nabi Muhammad mengakui adanya tingkatan kesabaran, beliau
membaginya atas tiga tingkatan, yaitu:
1. Kesabaran dalam menghadapi musibah (kesabaran terendah).
2. Kesabaran dalam mematuhi perintah Allah (kesabaran tingkat
pertengahan).
3. Kesabaran dalam menahan diri untuk tidak melakukan maksiat
(kesabaran tertinggi)[12].
Apabila
melihat tingkatan yang telah disebutkan, cobaan yang paling besar yaitu ketika
seseorang harus menahan hawa nafsunya untuk tidak berbuat maksiat. Padahal
seseorang menjadi lemah ketika berhadapan dengan nafsu, kecuali jika seseorang
tersebut benar-benar berhasil berperang melawan hawa nafsunya. Sabar dalam hal
inilah yang menurut Nabi merupakan tingkatan sabar paling tinggi, dimana seseorang
harus menahan hawa nafsunya sendiri untuk tidak terjerumus ke dalam lubang
kemaksiatan. Adapun macam-macam sabar yang disebutkan dalam al Qur’an, di
antaranya :
1.
Sabar dalam Mentaati Perintah Allah
Mentaati
perintah Allah menunjukkan bahwa seseorang tersebut haruslah menjalankan apa
yang diperintahkan oleh Allah. Mentaati-Nya memerlukan kesabaran yang sangat
besar karena dalam menjalankan perintah Allah pasti menemui cobaan yang sangat
besar pula. Oleh karena itu, dalam mentaati perintah Allah terutama dalam
beribadah diperlukan kesabaran. Seperti dalam firman Allah :
رَّبُّ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ
لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
[١٩:٦٥][13]
Tuhan
(yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka
sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu
mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?. (QS.
Maryam:65)
Tafsir al
Jalalain menjelaskan bahwa lafal اعْبُدْهُ ditafsiri dengan perintah menyembah Allah dan berteguh hati dalam
beribadah kepada-Nya. Sedangkan lafal وَاصْطَبِرْ
لِعِبَادَتِهِ ditafsiri
dengan bersikap sabar dalam menjalankan kedua perkara tersebut, yakni menyembah
Allah dan berteguh hati dalam beribadah kepada-Nya[14]. Penggunaan
kata اصْطَبِرْ dalam ayat di
atas bentuk mubalaghah dari اصبر menunjukkan bahwa dalam beribadah diperlukan kesabaran yang
berlipat ganda.
Dalam tafsir al
Qurtubi disebutkan bahwa وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ditafsiri dengan
sabar dalam patuh kepada Allah dan tidak boleh sedih dengan berakhirnya wahyu,
tapi sibukkanlah dengan suatu perkara yang baik. Lafal اصْطَبِرْ berasal dari اصْتَبِرْ, dikarenakan beratnya
mengumpulkan antara ta’ dan s̩ad, maka huruf ta’ diganti
dengan t̩a’, seperti lafal اصطام [15].
Dari uraian
tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam beribadah sangat diperlukan kesabaran
mengingat cobaan berat yang menghadang ketika dalam menjalankan ibadah
kepada-Nya.
2.
Sabar dalam Meninggalkan Kemaksiatan
Meninggalkan
kemaksiatan juga membutuhkan kesabaran yang besar, terutama pada kemaksiatan
yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti menggunjing, dusta, memandang
sesuatu yang haram, dan lain sebagainya. Kecenderungan jiwa manusia yang suka
pada hal-hal yang buruk dan menyenangkan. Sedangkan perbuatan maksiat identik
dengan hal-hal yang menyenangkan.
Seringkali
nafsu menggerogoti dan menuntun jiwa untuk selalu mendekati dan berbuat
maksiat. Hal tersebut sangat berbahaya bagi manusia karena dapat mengantarkan
manusia untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh iblis. Adapun untuk
mengantisipasi hal tersebut, maka seseorang haruslah memiliki sikap sabar.
Seorang manusia harus bersabar untuk tidak mendekati tempat berjudi ataupun
berzina, bersabar untuk tidak menggunjing orang lain, dan lain sebagainya. Dalam
al Qur’an disebutkan:
وَجَزَاهُم
بِمَا صَبَرُوا جَنَّةً وَحَرِيرًا [٧٦:١٢][16]
Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena
kesabarannya (berupa) surga dan (pakaian) sutera. (QS. al Insan : 12)
Tafsir al
Jalalain menafsiri lafal صَبَرُوا dengan bersikap sabar dari meninggalkan
perbuatan maksiat. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah memberi balasan
surga dengan pakaian sutera di dalamnya karena kesabarannya dalam meninggalakan
maksiat[17]. Dalam
tafsir al Thabari disebutkan bahwa sabar dalam ayat tersebut ada yang
memaknai sabar dalam kefakiran, ada pula yang memaknai sabar dalam berpuasa,
ada juga yang berpendapat sabar dalam kelaparan 3 hari yakni أيام النذر, ada pula
yang memaknai sabar dalam patuh kepada Allah dan meninggalkan maksiat serta
sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Lafal ما tersebut bermakna masdariyah. Ayat
ini turun dalam segala kebaikan dan bagi orang-orang yang melakukan kebaikan.
Dalam
hadis yang diriwayatkan Ibn Umar disebutkan :
وروى ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن الصبر فقال : (
الصبر أربعة : أولها الصبر عند الصدمة الأولى , والصبر على أداء الفرائض , والصبر
على اجتناب محارم الله , والصبر على المصائب )[18]
Kesabaran
dalam meninggalkan hal kemaksiatan juga disebutkan dalam QS. an Nisa’ : 25 yang
menjelaskan bahwa apabila dikhawatirkan berbuat zina, maka dianjurkan untuk
menikahi budak hamba sahayanya. Namun apabila bersabar untuk tidak menikahinya,
maka lebih baik[19].
Selain itu, dalam QS. Ali Imran : 200 juga disebutkan, dimana lafal ٱصْبِرُوا۟ ditafsiri dengan bersabar dalam melakukan ketaatan, menghadapi
musibah, dan menghindari kemaksiatan[20]. Seperti halnya QS. Luqman : 31. Dapat
ditarik kesimpulan bahwa kesabaran dalam meninggalakan maksiat sangatlah
diperlukan. Kemaksiatan yang menarik seseorang di dalamnya sangat luar biasa.
Hal itu membutuhkan sikap sabar yang sangat kuat.
3.
Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Cobaan dari
Allah
Cobaan
hidup baik fisik maupun non fisik akan menimpa semua orang, baik berupa lapar,
haus, sakit, kehilangan orang yang dicintai, kerugian harta benda, dan lain
sebagainya. Cobaan seperti itu bersifat alami dan manusiawi. Oleh sebab itu,
tidak ada yang bisa menghindar dan hanya bisa menerimanya dengan penuh
kesabaran serta menyerahkan semuanya kepada Allah. Dalam firman Allah
disebutkan :
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّى أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّى
أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ
قَالَ يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ
سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ[21]
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar". (QS. ash Shaffat:102.)
Lafal إِنِّى
أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ ditafsiri dengan melihat mimpi, dimana mimpi
para Nabi adalah mimpi yang benar, dan semua pekerjaan mereka merupakan
perintah dari Allah. Lafal أَنِّى أَذْبَحُكَ bermakna “aku diperintah untuk menyembelihmu”[22]. Ayat
tersebut mengandung cerita mengenai asal mula penyembelihan hewan Qurban saat
Idul Adha, yaitu ketika pada suatu malam Nabi Ibrahim bermimpi diperintah oleh
Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail. Mimpi tersebut terulang selama 3 hari.
Nabi Ibrahim baru percaya bahwa mimpi itu merupakan perintah dari Allah bukan
dari syaitan. Beliau bimbang dan ragu untuk memberi tahu putranya, Ismail. Namun
beliau akhirnya memberitahu putranya mengenai mimpi tersebut. Jawaban Ismail
sangat mengejutkannya. Ismail mengiyakan mimpi ayahnya tersebut dan segera
menyuruh ayahnya untuk melaksanakan mimpi tersebut. Lalu, ketika Ibrahim akan
menyembelih Ismail, Allah menggantinya dengan domba. Hal tersebut terjadi dikarenakan
kesabaran Ibrahim dalam menghadapi cobaan dan ketaatan Ismail kepada Allah dan
ayahnya serta kuasa Allah yang Maha Bijaksana.
Sabar
terhadap musibah merupakan aspek kesabaran yang paling sering dinasehatkan
banyak orang. Hal itu dikarenakan sabar dalam aspek ini merupakan bentuk sabar,
dimana sabar itu ada pada hentakan pertama. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, :
3126 - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا
عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ أَتَى
نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى امْرَأَةٍ تَبْكِى عَلَى صَبِىٍّ
لَهَا فَقَالَ لَهَا « اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى ». فَقَالَتْ وَمَا تُبَالِى
أَنْتَ بِمُصِيبَتِى فَقِيلَ لَهَا هَذَا النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-.
فَأَتَتْهُ فَلَمْ تَجِدْ عَلَى بَابِهِ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ
اللَّهِ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ « إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ
الأُولَى ». أَوْ « عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ ».[23]
4.
Sabar dalam Gejolak Nafsu
Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan
hidup, kesenangan, dan kemegahan dunia. Tak hanya itu, hawa nafsu juga dapat
mengontrol emosi yang menyebabkan marah. Untuk mengendalikan segala keinginan tersebut
diperlukan kesabaran. Jangan sampai kesenangan dunia tersebut membuat seseorang
lupa diri, apalagi sampai lupa terhadap Allah. Al Qur’an telah mengingatkan
bahwa bahwa jangan sampai harta benda dan anak-anak (di antara yang diinginkan oleh hawa nafsu)
menyebabkan seseorang lalai dari mengingat Allah :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن
ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ
فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ [٦٣:٩][24]
Hai
orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah
orang-orang yang merugi. (QS. al Munafiqun: 9)
Tafsir al
Jalalain menafsiri lafal لَا تُلْهِكُمْ dengan perintah untuk
tidak lalai yang disebabkan oleh أَمْوَالُكُمْ (harta) dan أَوْلَادُكُمْ (anak-anak). Adapun lafal ذِكْرِ اللَّهِ ditafsiri dengan
mengingat Allah dari melakukan shalat lima waktu[25].
Uraian tersebut menjelaskan tentang perintah untuk tidak lalai dalam mengingat
Allah. Yang dimaksud yakni ketika seseorang telah terpusat pada harta dan
anak-anaknya, maka tidak menutup kemungkinan seseorang tersebut akan lalai
dalam menjalankan shalat lima waktu. Hal tersebut disebabkan oleh gejolak nafsu
yang telah mendasar pada diri manusia.
Gejolak
nafsu tersebut dapat dicegah dengan bersikap sabar. Dengan kesabaran, seseorang
dapat mengukur kebutuhan yang harus dipenuhi agar tidak terjadi sesuatu yang
tidak diharapkan yang mengakibatkan kelalaian dalam mengingat Allah. Sabar juga
berperan dalam menahan hawa nafsu ketika marah. Menahan emosi untuk tidak marah
merupakan hal tak mudah sehingga dalam sebuah hadis disebutkan :
3363 - و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ
بْنِ الْمُسَيَّبِ عن أبي هريرة
رضي الله عنه أن رسول الله صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : ليس الشد يد بالصرعة إنما الشديد
الذي يملك نفسه عند الغضب (متفق عليه)[26]
5. Sabar
dalam Berdakwah
Jalan dakwah merupakan jalan yang panjang,
berliku-liku, serta penuh dengan onak dan duri. Seseorang yang melalui jalan
tersebut harus memiliki kesabaran yang penuh. Lukman Hakim menasehati putranya
untuk selalu bersabar dalam berdakwah. Seperti firman Allah :
يَا بُنَيَّ
أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ
عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ
ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ [٣١:١٧][27]
Hai
anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan
cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang
menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan
(oleh Allah). (QS. Luqman : 17)
Lafal وَأْمُرْ
بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ ditafsiri
menyuruh manusia kepada kebaikan dan melarangnya dari berbuat kemungkaran
(berdakwah). Sedangkan lafal اصْبِرْ ditafsiri
dengan bersabar atas perbuatan amar ma’ruf nahi munkar[28].
Yang dimaksudkan yaitu bersikap sabar ketika berdakwah. Selain itu, QS. al
A’raf : 87 juga mengandung sabar dalam berdakwah.
Seseorang
yang berdakwah menegakkan agama Allah tak lepas dari pekik masalah yang akan
menimpanya, seperti tidak diterima dalam masyarakat, sulit bersosialisasi
dengan lingkungan, dipandang remeh oleh masyarakat sekitarnya ataupun hanya
sedikit orang yang mengikutinya. Hal tersebut membutuhkan suatu sikap kesabaran
yang tinggi. Tanpa sikap sabar, seseorang yang memulai untuk berdakwah tersebut
akan menyerah sebelum berhasil berdakwah dan itu menandakan bahwa ia belum
berhasil. Oleh karena itu, dalam berdakwah harus diiringi dengan sifat
kesabaran yang tinggi.
6.
Sabar dalam Berperang (Berjihad)
Dalam peperangan
maupun berjihad di jalan Allah sangat diperlukan kesabaran. Apalagi untuk menghadapi musuh yang lebih
banyak dan lebih kuat pula. Dalam keadaan terdesak sekalipun, seorang prajurit
Islam tidak boleh melarikan diri dari medan perang, kecuali sebagai bagian dari
siasat perang, seperti firman Allah QS. al Anfal (8:15-16). Bersikap sabar
dalam peperangan maupun berjihad di jalan Allah merupakan salah satu
sifat-sifat orang yang bertaqwa. Hal tersebut telah disebutkan dalam firman
Allah:
…وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ
وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ
الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ
وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ [٢:١٧٧][29]
dan
orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang
yang bertakwa. (QS. al Baqarah : 177)
Tafsir al
Jalalain menafsiri lafal الصَّابِرِينَ ditafsiri dengan
orang-orang yang sabar. Sedangkan lafal وَحِينَ الْبَأْس dengan
ketika berkecamuknya perang di jalan Allah[30].
Orang-orang yang sabar dalam berperang di jalan Allah merupakan sifat
orang-orang yang bertaqwa. Selain itu, bersabar dalam berperang maupun berjihad
juga disebutkan dalam QS. al Baqarah :250 dan QS. Ali Imran : 125.
7.
Sabar dalam Pergaulan
Dalam
pergaulan sesama manusia, baik antara suami istri, antara orang tua dengan
anak, antara tetangga dengan tetangga, antara guru dan murid, atau dalam
masyarakat yang lebih luas, akan ditemui hal-hal yang tidak menyenangkan atau
menyinggung perasaan. Oleh sebab itu, dalam pergaulan sehari-hari diperlukan
kesabaran, sehingga tidak cepat marah atau memutuskan hubungan apabila menemui
hal-hal yang tidak disukai. Seperti firman Allah :
وَأَطِيعُوا۟
ٱللَّهَ
وَرَسُولَهُۥ
وَلَا
تَنَٰزَعُوا۟
فَتَفْشَلُوا۟
وَتَذْهَبَ
رِيحُكُمْ
وَٱصْبِرُوٓا۟
إِنَّ
ٱللَّهَ
مَعَ
ٱلصَّٰبِرِينَ[31]
Dan taatilah
Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta
orang-orang sabar. (QS. al Anfal :46)
Lafal وَلَا
تَنَٰزَعُوا ditafsiri dengan perintah untuk tidak bersengketa di antara sesama
saudara ataupun manusia. Sedangkan lafal وَٱصْبِرُوٓا ditafsiri
dengan perintah untuk bersabar[32]. Bersikap sabar dalam pergaulan sangat diperlukan. Dengan adanya
sabar, tidak akan terjadi persengketaan dan menciptakan ketentraman. Hal
tersebut dikarenakan setiap akan bersengketa, sikap sabar itu datang dalam
artian seseorang dapat menahan diri untuk tidak bersengketa dengan yang lain.
D.
Faedah Sabar
Al Qur’an merupakan sumber petunjuk dan pengajaran
bagi manusia. Tak heran, apabila di dalamnya terdapat berbagai pelajaran dan
faedah yang dapat diambil bagi seluruh manusia di muka bumi, seperti halnya
sabar. Dalam al Qur’an telah disebutkan berbagai faedah dan pelajaran yang
dapat diambil dan diaplikasikan oleh manusia dalam kehidupan. Di antara faedah
bersikap sabar, antara lain[33] :
1. Mendapatkan kebersamaan
Allah yang khusus (Ma’iyat Allahi al Khas̩s̩ah)
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ
وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ[34]
Hai
orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu,
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.(QS. al Baqarah:153)
Tafsir al
Jalalain menafsiri lafal اسْتَعِينُوا dengan meminta pertolongan dalam taat beribadah
dan mengahadapi cobaan[35]. Dalam
ayat tersebut, Allah akan bersama dengan orang-orang yang bersikap sabar, dalam
artian Allah akan menolong mereka yang sabar dalam beribadah dan menghadapi
cobaan. Hal tersebut merupakan kekhususan yang diberikan Allah kepada
orang-orang yang telah bersikap sabar.
2. Allah menjadikan
seseorang pemimpin agama sebab kesabaran
وَجَعَلْنَا
مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا
وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ[36]
dan Kami
jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan
perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat
kami.(QS. as Sajdah:24)
Lafal أَئِمَّةً ditafsiri dengan pemimpin-pemimpin. Lafal يَهْدُونَ
بِأَمْرِنَا ditafsiri
dengan memberi petunjuk kepada manusia, berupa mengajak berbuat baik, dan taat
kepada perintah Allah. Sedangkan lafal لَمَّا صَبَرُوا ditafsiri dengan bersabar dalam memegang agama
dan menghadapi musuh-musuhnya[37]. Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa
Allah menjadikan seseorang pemimpin yang bertujuan memberikan petunjuk, yakni
mengajak berbuat baik. Allah menjadikannya pemimpin atas dasar kesabarannya
dalam menjaga dan memegang teguh tali Allah dan sabar dalam menghadapi
musuh-musuhnya.
3. Allah menolong mereka
atas musuh-musuhnya apabila mereka bersabar dan bertakwa
بَلَىٰ
إِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُم مِّن
فَوْرِهِمْ هَٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُم بِخَمْسَةِ آلَافٍ مِّنَ الْمَلَائِكَةِ
مُسَوِّمِينَ[38]
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan
mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong
kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran:125)
Dalam tafsir al Jalalain, lafal إِن تَصْبِرُوا ditafsiri dengan seseorang yang apabila
bersabar dalam menghadapi musuh, sedangkan lafal وَيَأْتُوكُم
مِّن فَوْرِهِمْ ditafsiri
dengan kedatangan mereka, yakni orang-orang musyrikin yang tiba-tiba.
Lafal هَٰذَا
يُمْدِدْكُمْ
رَبُّكُم menjelaskan
mengenai pertolongan Allah[39]. Imam
al Qurtubi juga menafsiri sabar dalam ayat tersebut dengan bersabar dalam
menghadapi musuh dan bertaqwa kepada Allah dengan meninggalkan kemaksiatan[40]. Ayat
ini mengandung makna bahwa Allah mengirimkan pertolongan bagi mereka yang bersabar
dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Allah telah menepati janji-Nya, yakni
dengan mengirimkan pasukan malaikat di atas kuda-kuda belang dengan memakai
serban berwarna kuning atau putih yang mereka lepaskan teruntai di atas bahu.
Pertolongan Allah akan selalu mengalir bagi mereka yang bersabar dan bertaqwa.
Seperti halnya QS. Ali Imran : 120.
4. Orang yang sabarlah yang
dapat mengambil manfaat dan pelajaran atas ayat-ayat Allah
أَلَمْ
تَرَ أَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِ لِيُرِيَكُم مِّنْ
آيَاتِهِ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ
شَكُورٍ[41]
Tidakkah kamu
memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar dilaut dengan nikmat Allah,
supaya diperlihatkannya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua
orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. (QS. Luqman:31)
Lafal لِيُرِيَكُم berarti Allah memperlihatkan kepada manusia, sedangkan
lafal مِّنْ
آيَاتِهِ berarti sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Lafal لَآيَاتٍ diartikan tanda-tanda, yaitu pelajaran-pelajaran yang
dapat diambil[42].
Dari keterangan penafsiran tersebut, diketahui bahwa Allah memperlihatkan
tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada manusia. Namun, tanda-tanda kekuasaan tersebut
hanya dapat diambil pelajaran oleh orang-orang yang bersabar dan bersyukur.
Dikarenakan dengan sikap sabar dalam menghadapi cobaan dan bersyukur atas
nikmat yang diberikan kepadanya, seseorang dapat mengambil suatu pelajaran dari
sikap tersebut.
Semisal contoh seseorang diberi cobaan oleh Allah berupa kecelakaan
mobil. Hal tersebut membuat ia tak sadarkan diri beberapa bulan. Namun, sang
keluarga sangat bersabar dan telaten dalam merawatnya. Hingga suatu ketika
Allah menolongnya dari ketidaksadaran tersebut. Sampai akhirnya ia sadar dari
koma dan dapat sembuh sehingga bisa menjalani kehidupannya kembali. Hal itu
merupakan sedikit dari tanda-tanda Allah yang dapat dipetik pelajaran bagi
mereka yang bersabar dan bersyukur.
Seluruh ayat-ayat di atas,
menunjukkan bahwa ayat-ayat Allah hanya dapat diambil pelajaran dan faedah oleh
orang-orang yang sabar dan bersyukur. Demikian juga sabda Rasulullah S̩alla
Allah 'Alaihy wa Sallam:
Siapa
yang bersabar maka Allah akan menjadikannya sabar dan tidaklah ada satu
pemberian kepada seorangpun yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.
E. Balasan
Bagi Orang yang Berbuat Sabar
Sabar merupakan suatu sikap yang harus dimiliki
oleh seseorang. Dalam manjalani kehidupan, seseorang dituntut untuk bersikap
sabar. Adakalanya seseorang tersebut harus sabar ketika menghadapi musibah,
sabar dalam berjihad, dan lain sebagainya. Allah telah menjanjikan balasan bagi
orang-orang yang berbuat sabar, baik di dunia maupun di akhirat. Di antara
balasan-balasan bagi orang yang berbuat sabar, yaitu :
1.
Mendapatkan pujian dari Allah
Balasan bagi orang ang berbuat sabar salah
satunya yakni mendapat pujian dari Allah. Allah telah manjanjikan dalam
firman-Nya:
لَّيْسَ
الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ
الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ
وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ
وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي
الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ
إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ
وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْمُتَّقُونَ [44]
bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang
yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang
yang bertakwa.(QS. al Baqarah:177)
Tafsir al Jalalain menafsiri lafal الصَّابِرِينَ dengan orang-orang yang sabar dalam menghadapi
segala cobaan dan kesusahan. Lafal صَدَقُوا ditafsiri dengan bentuk pujian yakni
orang-orang yang benar imannya. Sedangkan lafal الْمُتَّقُونَ ditafsiri dengan bentuk pujian yakni termasuk orang-orang
yang bertaqwa[45].
Ayat tersebut menjelaskan mengenai balasan bagi orang-orang yang sabar yakni
berupa pujian dari Allah. Allah memuji kesabaran seseorang dengan mengatakan
bahwa mereka, yakni orang-orang yang bersikap sabar termasuk orang yang benar
imannya dan bertaqwa. Selain itu, balasan pujian dari Allah bagi orang yang
sabar juga disebutkan dalam QS. al Mu’minun (23) :111, QS. as Syuraa (42) :43.
2. Mendapat kecintaan dari Allah
Kecintaan
Allah tak hanya datang bagi orang-orang yang berbuat baik dan bertaqwa. Melainkan
kecintaan Allah juga datang kepada orang-orang yang berbuat sabar. Seperti
firman Allah, yaitu:
وَكَأَيِّن
مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ[46]
dan berapa banyaknya Nabi yang
berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa.
mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah,
dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai
orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran:146)
Tafsir al Jalalain menafsiri lafal وَمَا
ضَعُفُوا dengan
tidak menjadi lemah dalam berjuang menghadapi musuh, dan lafal وَمَا
اسْتَكَانُوا ditafsiri
dengan tidak pula menyerah atau tunduk terhadap musuh-musuh. Sedangkan lafal وَاللَّهُ
يُحِبُّ الصَّابِرِينَ berarti bahwa Allah mencintai orang-orang yang
sabar dalam menerima bala’ sampai Allah mengirimkan pertolongan
kepadanya[47]. Ayat tersebut menjelaskan bahwa kecintaan
Allah ditujukan kepada hambanya yang tidak menyerah dan bersabar dalam
menghadapi musuh. Hal tersebut dikarenakan mereka bertaqwa kepada Allah dan
Rasul-Nya.
3. Allah bersama dengan orang-orang yang sabar
Kesabaran
yang dilakukan seseorang merupakan sebuah perjuangan. Dimana ketika ia bersikap
sabar, ia harus melawan hawa nafsu, bersikap tegar, dan tidak lemah. Hal
tersebut menjadi nilai plus bagi orang yang mengerjakannya. Tak heran, apabila
Allah akan bersama dengan orang-orang yang bersikap sabar. Dalam firman-Nya
disebutkan :
ٱلْـَٰٔنَ
خَفَّفَ ٱللَّهُ عَنكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ
صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ
وَإِن يَكُن مِّنكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ
مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ[48]
Sekarang Allah telah meringankan
kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada
diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua
ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya
mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah
beserta orang-orang yang sabar. (QS. al Anfal:66)
Ayat
di atas menjelaskan mengenai kebersamaan Allah dengan orang-orang yang sabar.
Sabar dalam ayat tersebut merupakan sabar dalam menghadapi musuh. Mereka tidak
mampu lagi untuk melawan musuh dikarenakan jumlah musuh lebih banyak dari
perkiraan sehingga menyebabkan pasukan berantakan. Di saat seperti ini, mereka
tetap bersabar dalam menjalaninya. Oleh karena itu, Allah selalu bersama dengan
orang-orang yang sabar dalam artian pertolongan Allah selalu menyertai mereka[49].
4. Shalawat, rahmat, dan hidayah bersama orang-orang yang sabar
Allah
sangat memuliakan orang yang berbuat sabar. Bagi orang yang sabar, Allah
memudahkan segala urusannya. Orang yang berbuat sabar selalu dikelilingi oleh
shalawat, rahmat, dan hidayah. Hal tersebut telah disiapkan oleh Allah kepada
orang-orang yang berbuat sabar. Dalam al Qur’an disebutkan :
وَلَنَبْلُوَنَّكُم
بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ [١٥٥] الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم
مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ [١٥٦] أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ
مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ
وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ [١٥٧][50]
dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar. (155) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,
mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun
(Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini
dinamakan kalimat istirja’ (pernyataan kembali kepada Allah))”. (156) mereka
Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan
mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (157).(QS. al
Baqarah:155-157).
Dalam
tafsir al Jalalain, وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ ditafsiri
dengan Allah memberikan cobaan kepada manusia, yaitu berupa الْخَوْفِ (ketakutan akan musuh), الْجُوعِ (kelaparan pada masa
kemarau), وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ (kekurangan
harta karena malapetaka dan kematian atau penyakit). Lafal وَبَشِّرِ
الصَّابِرِينَ ditafsiri dengan kabar gembira bagi mereka yang
bersabar karena akan menerima pahala kesabaran tersebut. Dari uraian penafsiran
QS. al Baqarah : 155 dalam tafsir al Jalalain, dapat disimpulkan bahwa
kesabaran juga harus dilakukan ketika menerima cobaan apapun dari Allah.
Adapun
cara bersikap sabar, dapat diketahui dari QS. al Baqarah : 156, yakni dengan
mengucapkan doa istirja’, yaitu إِنَّا
لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُون. Pengucapan doa istirja’
bukan hanya melalui mulut, melainkan juga melalui hati. Hal tersebut
dikarenakan kita sebagai makhluk akan kembali kepada Allah yang menciptakan
kita[51]. Lafal
الَّذِينَ
إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ ditafsiri dengan cobaan. Sedangkan QS. al Baqarah : 157
menjelaskan tentang balasan bagi orang yang sabar dengan mengucapkan doa istirja’
tersebut. Balasan bagi orang sabar tersebut berupa kenikmatan, hidayah, dan
rahmat karena semua itu akan selalu mengiringi orang yang berbuat sabar[52].
5.
Mendapatkan ganjaran yang lebih baik dari
amalannya
Setiap manusia pasti pernah mendapatkan cobaan.
Cobaan tersebut bukan berarti Allah tidak sayang kepadanya, melainkan Allah
sangat manyayanginya dan Allah tidak memberi cobaan kepada manusia melebihi
batas kemampuannya. Dengan cobaan tersebut, Allah menguji keimanan manusia.
Apakah ia mengeluh dengan adanya cobaan tersebut ataupun malah bersabar dalam
menghadapinya. Bagi mereka yang bersabar dalam menghadapi cobaan tersebut,
Allah membalasnya dengan memberikan ganjaran kepadanya melebihi amalan
kebaikannya. Seperti dalam firman Allah, yaitu:
وَإِنْ
عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّابِرِينَ[53]
dan jika
kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan
yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar. Sesungguhnya itulah
yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS. an Nahl:126)
Penafsiran
lafal وَلَئِن
صَبَرْتُمْ yaitu ketika memilih
untuk bersabar dalam artian tidak ingin membalas siksaan yang diperlakukan
kepadanya. Lafal خَيْرٌ berarti lebih baik, sedangkan لِّلصَّابِرِينَ berarti bagi orang-orang yang sabar. Ayat
tersebut mengisahkan tentang peristiwa yang dengan ayat tersebut Nabi akhirnya
membatalkan sumpahnya dan membayar kafarat[54]. Dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa
perlakuan tidak baik harus dibalas dengan balasan yang sama. Namun, ketika
seseorang tersebut tidak ingin membalasnya melainkan bersabar, maka hal tersebut
lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Baginya akan mendapatkan pahala yang
lebih baik dari amalan-amalan yang lainnya.
6.
Mendapat ampunan dan pahala dari Allah
Salah satu balasan Allah bagi orang yang
besikap sabar yaitu mendapat ampunan dan pahala dari Allah. Cobaan yang
diberikan Allah kepadanya membuahkan ampunan dan pahala baginya. Hal tersebut
dapat menyelamatkannya di akhirat kelak. Dalam al Qur’an disebutkan :
إِلَّا
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ[55]
kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan
mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang
besar.(QS. Hud:11)
Dalam tafsir al Jalalain, lafal صَبَرُوا dimaknai dengan orang-orang yang bersabar dalam
menghadapi bencana dan lafal وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ dimaknai
dengan orang-orang yang beramal shalih sewaktu diberi kebahagian padanya.
Sedangkan lafal مَّغْفِرَةٌ dimaknai dengan ampunan, serta وَأَجْرٌ
كَبِيرٌ dimaknai
dengan pahala yang besar[56].
Ayat tersebut menjelaskan bahwa ampunan dan pahala yang besar diperuntukkan
bagi mereka yang bersabar dalam menghadapi cobaan dan beramal shalih ketika
berbahagia. Ampunan dan pahala yang besar yang diberikan tersebut berupa surga.
7.
Mendapat martabat yang
tinggi di dalam Surga
Bagi orang yang
bersikap sabar, banyak sekali balasan yang Allah berikan kepadanya. Di antara
balasan tersebut, yaitu mendapat martabat yang tinggi di surga kelak. Tidak ada
seseorang yang tidak menginginkan martabat tinggi di surga. Rasulullah S̩alla
Allah 'Alaihy wa Sallam bersabda :
64 -
(2999) حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ، وَشَيْبَانُ بْنُ
فَرُّوخَ، جَمِيعًا عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْمُغِيرَةِ - وَاللَّفْظُ لِشَيْبَانَ
- حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، حَدَّثَنَا ثَابِتٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
أَبِي لَيْلَى، عَنْ صُهَيْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ،
وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ،
فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»[57]
Sungguh menakjubkan perkaranya orang
yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian
itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mu’min: Yaitu jika ia
mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal
tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia
bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi
dirinya. (HR. Muslim).
Dalam
firman Allah juga disebutkan :
Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang
tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut
dengan penghormatan dan salam. (QS. al Furqan : 75)
Lafal يُجْزَوْنَ
ٱلْغُرْفَةَ ditafsiri dengan balasan tertinggi di surga,
sedangkan lafal بِمَا صَبَرُوا ditafsiri dengan kesabaran dalam menjalankan
ketaatan kepada Allah[59]. Ayat tersebut mengandung balasan bagi mereka
yang bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, yakni akan mendapatkan
martabat tertinggi dan di sambut di dalam surga yang paling tinggi martabatnya
dengan penghormatan dan ucapan salam dari para Malaikat. Sikap sabar yang
dibalas dengan balasan yang sangat tinggi derajatnya.
III. Kesimpulan
Sabar
secara etimologis berasal dari bahasa Arab صبر
يصبر صبرا"", yang berarti menahan. Sabar dalam istilah agama Islam
adalah teguh dan tahan menetapi pengaruh yang disebabkan oleh agama untuk
menghadapi atau menentang pengaruh yang ditimbulkan oleh hawa nafsu. Sedangkan
lawan kata dari صبر yaitu جزع yang berarti tidak sabar, gelisah, sedih dan
keluh kesah. Al Qur’an menyebutkan lafal sabar sebanyak 103 kali dalam 93 ayat.
Adapun ayat-ayat yang menerangkan tentang sabar, di antaranya QS. al Baqarah
(2:155-157), QS. Ali Imran (3:142), QS. al A’raf (7:87), dan lain sebagainya.
Kesabaran
merupakan salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah. Urgensi
sabar antara lain menjadi penolong ketika menghadapi kesulitan ataupun musuh, membentuk kepribadian yang mulia, mendidik diri, memberikan
sebuah pelajaran ataupun hikmah di balik bersikap sabar, dan lain-lain.
Dalam
upaya pengendalian diri (bersabar), Nabi Muhammad mengakui adanya tingkatan
kesabaran. Beliau membaginya atas tiga tingkatan, yaitu kesabaran dalam
menghadapi musibah (kesabaran terendah), kesabaran dalam mematuhi perintah
Allah (kesabaran tingkat pertengahan), kesabaran dalam menahan diri untuk tidak
melakukan maksiat (kesabaran tertinggi). Adapun macam-macam
sabar meliputi sabar dalam mentaati perintah Allah, sabar dalam
meninggalkan kemaksiatan, sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah,
sabar dalam gejolak nafsu, sabar dalam berdakwah, sabar dalam berperang
(berjihad), sabar dalam pergaulan.
Adapun
faedah berbuat sabar, di antaranya mendapatkan
kebersamaan Allah yang khusus (Ma’iyat Allahi al Khas̩s̩ah), Allah menjadikan seseorang pemimpin agama
sebab kesabaran, Allah menolong
mereka atas musuh-musuhnya apabila mereka bersabar dan bertakwa. Selain itu, Allah
telah menyiapkan balasan bagi orang yang berbuat sabar, yakni mendapatkan
pujian dari Allah, mendapat kecintaan dari Allah, Allah bersama dengan
orang-orang yang sabar, shalawat, rahmat, dan hidayah bersama orang-orang yang
sabar, mendapatkan ganjaran yang lebih baik dari amalannya, dan mendapat
martabat yang tinggi di dalam Surga.
Daftar Pustaka
Al Qur’an al Karim
Abadi, Majd al Dīnabu T̩āhir Muhammad bin Ya’qub al Fairuz. al
Qāmus al Muhīt̩. Beirut: Muassasah al Risalah, 2005.
Anas, Mālik bin. al Muwatta’. ttp: Muassasah Zayid bin
Sultan Ali Nihyan, 2004.
Baghawi (al), Abu Muhammad al Husain bin Mas’ud. Ma’alīm al Tanzīl fi Tafsīr al Qur’an. Beirut: Dar al Thaibah li al Nashir wa al Tauzi’, 1997.
Baihaqi (al), Abu Bakar Ahmad bin Husain. S̩u’b al Īmān.
Beirut: Dar al Kutub al ‘Alamiyyah, 1410 H.
Bayd̩āwī (al), Nashr al Din Abu Sa’id Abdullah bin Umar bin
Muhammad al Shayrāzi. Anwār al Tanzīl wa Asrār al Ta’wīl. Beirut:
Dar Ihya’ al Turats al ‘Arabi, 1418 H.
Fitrah. Aqidah Akhlaq. Surakarta: Putra Nugraha, tth.
Ghozali (al). Bimbingan Untuk Mencapai Tingkatan Mukmin.
Bandung: CV. Diponegoro, 1994.
Hidayani, Nurul. “Sabar Perspektif Al-Qur’an dan Hadits”, dalam http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/Sabar-Perspektif-al Qur’an-dan-Hadits,
(diakses pada 24 Desember 2014).
IlkāI (al), Abu al Qasim Habatullah bin al Hasan bin Mansur al
T̩abari al Rāzi. S̩arh Ushul I’tiqad Ahlu al Sunnah wa al Jama’ah.
Saudi: Dar Thayyibah, 2003.
Ju’fī (al), Muhammad bin Ismaīl Abu Abdullah al Bukhārī. Shahih
Bukhari. ttp: Dar T̩uq al Najah, 1422 H.
Mudlor, Atabik A. Zuhdi. Kamus Kontemporer Arab-Indonesia
Krapyak al ‘As̩ri. Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tth.
Naysāburī (al), Muslim bin al Hajāj Abu al Hasan al Qus̩ayrī. Shahih
Muslim. Beirut: Dar Ihya’ al Turath al ‘Arabi, tth.
Niswati, Khoirin. “Aplikasi Pengajian Tafsir Jalalain Dalam
Perilaku Masyarakat Desa Gagakan Sambong”. Skripsi di STAI Al Muhammad Cepu,
2012.
Qurtubī (al), Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin
Farh al Ans̩ari Sham al Dīn. Jāmi’ li Ahkam al Qur’an. al Qahirah: Dar
al Kutub al Qahirah, 1964.
Sijistani (al), Abu Dawud Sulaiman bin al As̩’ath. Sunan Abi
Dawud. Beirut: Dar al Kitab al Arabi, tth.
Suyuti (al), Jalaluddin Abdurrahman Abu Bakar. Tafsir al
Jalalain. Surabaya: al Haramain, 2008.
Syihab, M. Quraish. Secercah Cahaya Ilahi. Bandung: Mizan,
2007.
T̩abarī (al), Muhammad bin Jarīr bin Yazīd bin Kathīr bin
Ghālib al Āmili Abu Ja’far. Jami’ al Bayan fi Ta’wil al Qur’an.
Beirut: Muassasah al Risalah, 2000.
[1] Al Qur’an,
6:42.
[2] Muhammad bin
Ismaīl Abu Abdullah al Bukhārī al Ju’fī, Shahih Bukhari, (ttp: Dar
T̩uq al Najah, 1422 H), 7:114.
[3] Atabik A.
Zuhdi Mudlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia Krapyak al ‘As̩ri,
(Yogyakarta: Multi Karya Grafika, tth), 1165-1166.
[4]
Majd al Dīnabu T̩āhir Muhammad bin Ya’qub al Fairuz Abadi, al Qāmus al Muhīt̩,
(Beirut: Muassasah al Risalah, 2005), 422.
[5] Al Ghozali, Bimbingan
Untuk Mencapai Tingkatan Mukmin, (Bandung: CV. Diponegoro, 1994), 904.
[6] M. Quraish
Syihab, Secercah Cahaya Ilahi, (Bandung: Mizan, 2007), 165.
[7]
Khoirin Niswati, “Aplikasi Pengajian Tafsir Jalalain Dalam Perilaku Masyarakat
Desa Gagakan Sambong”. (Skripsi di STAI Al Muhammad Cepu, 2012), 28.
[8] Abu al Qasim
Habatullah bin al Hasan bin Mansur al T̩abari al Rāzi al Ilkāi, S̩arh
Ushul I’tiqad Ahlu al Sunnah wa al Jama’ah, (Saudi: Dar Thayyibah, 2003),
4: 924.
[9] Al Qur’an,
2:45.
[10] Jalaluddin
Abdurrahman Abu Bakar al Suyuti, Tafsir al Jalalain, (Surabaya: al
Haramain, 2008), 1: 8.
[11] Abu
Muhammad al Husain bin Mas’ud al Baghawi, Ma’alīm
al Tanzīl fi Tafsīr al Qur’an, (Beirut:
Dar al Thaibah li al Nashir wa al Tauzi’, 1997), 89.
[12]
Khoirin Niswati, “Aplikasi Pengajian Tafsir Jalalain dalam Perilaku Masyarakat
Desa Gagakan Sambong”. (Skripsi di STAI Al Muhammad Cepu, 2012), 29.
[13] Al Qur’an,
19:65.
[14] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 2: 17.
[15] Abu Abdillah
Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al Ans̩ari Sham al Dīn al Qurtubī, Jāmi’
li Ahkam al Qur’an, (al Qahirah: Dar al Kutub al Qahirah, 1964), 11:30.
[16] Al Qur’an,
76:12.
[17] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 2:245.
[18] Muhammad bin
Jarīr bin Yazīd bin Kathīr bin Ghālib al Āmili Abu Ja’far al T̩abarī, Jami’
al Bayan fi Ta’wil al Qur’an, (Beirut: Muassasah al Risalah, 2000), 24:101.
[19] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 75.
[20] Ibid., 1: 69.
[21] Al Qur’an,
37:102.
[22] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 2: 132.
[23] Abu Dawud
Sulaiman bin al As̩’ath al Sijistani, Sunan Abi Dawud, (Beirut: Dar al
Kitab al Arabi, tth), 3:161.
[24] Al Qur’an,
63:9.
[25] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 2: 222.
[26] Mālik bin
Anas, al Muwatta’, (ttp: Muassasah Zayid bin Sultan Ali Nihyan, 2004),
5:1332.
[27] Al Qur’an,
31:17.
[28] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 2: 101.
[29] Al Qur’an,
2:177.
[30] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 25.
[31] Al Qur’an,
8:46.
[32] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 153.
[33] Nurul
Hidayani, “Sabar Perspektif Al-Qur’an dan Hadits”, dalam http://langitjinggadipelupukmatarumahmakalah.blogspot.com/Sabar-Perspektif-al Qur’an-dan-Hadits,
(diakses pada 24 Desember 2014)
[34] Al Qur’an,
2:153.
[35] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 22.
[36] Al Qur’an,
32:24.
[37] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 2: 105.
[38] Al Qur’an,
3:125.
[39] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 60.
[40] Al Qurtubī, Jāmi’
li Ahkam al Qur’an, 4:195.
[41] Al Qur’an,
31:31.
[42] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 2: 103
[43] Abu Bakar
Ahmad bin Husain al Baihaqi, S̩u’b al Īmān, (Beirut: Dar al Kutub al
‘Alamiyyah, 1410 H), 3:267.
[44] Al Qur’an,
2:177.
[45] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 25.
[46] Al Qur’an,
3:146.
[47] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 62.
[48] Al Qur’an,
8:66.
[49] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 155.
[50] Al Qur’an,
2:155-157.
[51] Nashr al Din
Abu Sa’id Abdullah bin Umar bin Muhammad al Shayrāzi al Bayd̩āwī, Anwār
al Tanzīl wa Asrār al Ta’wīl, (Beirut: Dar Ihya’ al Turats al ‘Arabi,
1418 H), 115.
[52] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 64.
[53] Al Qur’an,
16:126.
[54] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 226.
[55] Al Qur’an,
11:11.
[56] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 1: 181.
[57] Muslim
bin al Hajāj Abu al Hasan al Qus̩ayrī al Naysāburī, Shahih Muslim,
(Beirut: Dar Ihya’ al Turath al ‘Arabi, tth), 4:2295.
[58] Al Qur’an,
25:75.
[59] Al Suyuti, Tafsir
al Jalalain, 2: 65.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar